LombokPost - Warga terdampak kebakaran di Desa Wisata Sade mulai membangun hunian sementara secara mandiri sambil menunggu rekonstruksi dari pemerintah. Sebagian warga bahkan terpaksa berutang agar memiliki tempat berteduh sebelum musim hujan tiba.
“Saya beli kayu kempas dan akasia sebanyak sembilan tiang kayu sesuai struktur asli rumah adat. Kalau bahan alang-alang untuk atap, ada donasi dari wisatawan mancanegara,” ujar Nurasid, salah seorang warga terdampak, Rabu (9/9).
Memanfaatkan waktu luang lantaran belum bisa kembali bekerja, warga bergotong royong mendirikan kerangka bangunan yang ditargetkan rampung dalam sepekan. Namun, dana bantuan itu jelas tak mencukupi seluruh kebutuhan pembangunan.
“Sesuai dana yang ada dulu,” cetusnya.
Baca Juga: Sade Bangkit, Warga Mulai Cicil Bangun Rumah Adat
Kabul Sangaji, warga Sade lainnya, mengaku terpaksa berutang ke tetangga di luar dusun demi menutup kekurangan biaya material. Langkah ini dia tempuh agar keluarganya setidaknya memiliki tempat beralas terpal yang bisa diandalkan saat hujan turun.
“Terasa lebih nyaman karena milik sendiri. Nanti kalau bantuan rekonstruksi dari pemerintah cair, uangnya bisa dipakai untuk melunasi utang,” tutur Kabul.
Kabul juga menumpahkan kekecewaannya terkait lambatnya proses rekonstruksi dari pemerintah daerah maupun pusat. Menurutnya, warga sangat mendukung tempat tinggal mereka akan dilengkapi hidran dan instalasi listrik yang aman. Tetapi, pemerintah seharusnya memprioritaskan pembangunan hunian warga terlebih dahulu dibandingkan fasilitas penunjang lainnya.
Baca Juga: MotoGP dan KEK Mandalika Dongkrak Investasi Loteng, Lima Tahun Tembus Rp 17,12 Triliun
“Kami butuh tempat berlindung dari hujan,” tegasnya.
Tak hanya kehilangan tempat tinggal, musibah kebakaran ini memutus mata pencaharian warga, khususnya para perempuan pencari nafkah. Tanpa alat tenun yang tersisa, para ibu rumah tangga kini sama sekali tidak memiliki penghasilan.
Inaq Johar mengungkapkan, meski bantuan sembako masih mengalir untuk makan sehari-hari, mereka kebingungan mencari uang tunai demi kebutuhan mendesak, seperti bekal sekolah anak.
“Senin (7/9) lalu sudah diminta KTP untuk buka rekening bank katanya dari Kementerian, semoga cepat cair agar kami bisa beli perlengkapan menenun dan mandiri lagi,” pungkas Inaq Johar.
Baca Juga: DPRD Loteng Soroti Limbah Lumpur Perumdam Ganggu Warga Penujak
Wakil Bupati (Wabup) Loteng M Nursiah sangat menyayangkan aksi nekat warga membangun hunian mandiri itu. Nursiah mengimbau masyarakat Dusun Sade untuk tetap bersabar menanti proses rekonstruksi resmi rumah adat mereka dari pemerintah.
“Perlu dilakukan pertemuan kembali dengan warga untuk mensosialisasikan rancangan desain rekonstruksi agar terjadi kesepahaman bersama,” singkatnya.
Editor : Akbar SirinawaSumber : Liputan Berita Lombok Post