LombokPost — Rentetan kasus keracunan makanan hingga temuan menu berulat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lombok Tengah (Loteng) memicu respons tegas dari pemerintah daerah.
Tak ingin kompromi dengan keselamatan anak sekolah, Satuan Tugas (Satgas) MBG Loteng mengumpulkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Loteng di Praya.
Ketua Satgas MBG Loteng Lalu Firman Wijaya menegaskan, pemantauan terhadap seluruh rangkaian proses penyiapan hingga distribusi menu MBG kini dinaikkan statusnya menjadi pengawasan ketat dan berkelanjutan.
Langkah ini diambil untuk memastikan seluruh penyedia jasa mematuhi standar kualitas serta keamanan pangan yang telah ditetapkan.
"Kami tidak ingin ada lagi celah kecerobohan. Pengawasan harus dilakukan secara ketat dan kontinyu dari hulu ke hilir, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak di dapur umum, hingga pengemasan dan distribusi ke sekolah-sekolah," tegas Firman pada Lombok Post, Rabu (16/9).
Baca Juga: Satgas MBG Loteng Minta Masyarakat Ikut Pantau Operasional SPPG
Ia menyampaikan, evaluasi menyeluruh wajib dilakukan oleh seluruh pengelola dapur SPPG tanpa terkecuali.
Insiden menu berulat dan kasus keracunan yang sempat mencoreng pelaksanaan program strategis ini menjadi peringatan keras agar standar operasional prosedur (SOP) sanitasi dan higiene diterapkan secara disiplin tinggi.
Dalam pertemuan tersebut, kata Firman, Satgas MBG Loteng juga menyusun skema pengawasan berlapis yang melibatkan tim teknis dari Dinas Kesehatan dan BPOM.
Langkah preventif ini diharapkan bisa mengikis habis risiko kontaminasi pangan, sekaligus mengembalikan kepercayaan para siswa dan orang tua murid terhadap keamanan menu MBG yang dibagikan setiap hari.
Firman menambahkan, pihak daerah tak segan-segan mengambil tindakan tegas bagi pengelola SPPG atau penyedia jasa yang terbukti lalai menjaga mutu dan kebersihan makanan.
"Keselamatan dan kesehatan anak-anak kita adalah harga mati. Jika ada yang melanggar standar keamanan pangan, tentu ada sanksi tegas sesuai aturan," pungkas Sekda Loteng ini.
Baca Juga: Guru SDN Beber Tolak MBG, Dituding Jadi Penyebab Keracunan Siswa
Sementara itu, teka-teki penyebab pasti dugaan keracunan menu MBG yang menimpa ratusan siswa di Loteng masih menunggu kepastian medis.
Dinas Kesehatan (Dikes) Loteng mengonfirmasi bahwa hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang memicu insiden tersebut hingga kini belum keluar.
Seluruh sampel makanan telah diserahkan sepenuhnya kepada Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) untuk dilakukan pengujian secara komprehensif.
"Masih belum keluar hasilnya niki dik. Kita masih menunggu dari BPOM yang memeriksa sampel yang kami kirimkan," ungkap Kepala Dikes Loteng dr Mamang Bagiansah.
Baca Juga: Jangan Sampai Terulang Lagi! Pemkab Lakukan Evaluasi Total Program MBG di Loteng
Menurutnya, proses uji laboratorium mikrobiologi maupun kandungan zat beracun membutuhkan waktu dan ketelitian tinggi. Prosedur standar pemeriksaan sampel di BPOM biasanya memerlukan waktu hingga satu minggu sejak sampel diterima.
"Paling lama seminggu dari pengiriman sampel baru keluar hasilnya," tambahnya.
Kepastian hasil uji lab ini menjadi kunci penting bagi Satgas MBG dan pemkab Loteng untuk menentukan langkah penanganan lanjutan serta menentukan evaluasi terhadap pengelola SPPG yang bertanggung jawab atas penyediaan menu tersebut.
Sementara menunggu hasil resmi BPOM keluar, pemerintah daerah menginstruksikan pengawasan diperketat agar kasus serupa tidak terulang kembali.
Editor : Prihadi Zoldic
Sumber : Liputan Berita Lombok Post