Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Peluang dan Tantangan Tebu Dompu di Masa Mendatang (1)

Kimda Farida • Jumat, 7 Maret 2025 | 09:15 WIB

Alimuddin, S.Pt, M.Si
Alimuddin, S.Pt, M.Si

LombokPost--Masuknya ternak liar ke area perkebunan tebu di Dompu kerap menjadi persoalan yang dihadapi para petani di lapangan.

Problematika ini belum memiliki titik temu kendati berbagai upaya telah dilakukan.

--------------------

Dekan Fakultas Peternakan Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram Alimuddin menilai titik persoalan ini muncul dikarenakan kurangnya informasi masing-masing pihak, yakni petani, peternak dan perusahaan pabrik gula PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) yang berada di Pekat, Dompu.

Para pihak yang terlibat sebenarnya bisa melakukan kerja sama terintegrasi sehingga bisa memberikan manfaat ke masing-masing dari mereka.

Baca Juga: Bawaslu Perkuat Kesadaran Demokrasi 

Menurut dia, limbah yang dihasilkan dari setiap panen tebu bisa diolah menjadi pakan ternak.

Dia mencontohkan jika produksi tebu per hektare mencapai 70-90 ton, maka 30 persen diantaranya merupakan limbah, baik berupa daun, ampas dan pucuknya.

Justru jika limbah ini tidak dimanfaatkan akan mencemari lingkungan.

Di sisi lain, sistem peternakan di wilayah Dompu yang dilakukan secara dilepas bisa diarahkan menjadi semi intensif untuk dikandangkan.

Baca Juga: Mengenal Sosok Ayu Indra Rukmana, Ketua TP PKK Lobar Istri Bupati LAZ

Hal ini diyakininya akan memberi banyak manfaat bagi peternak.

Keuntungan pertama, bisa mengurangi inbreeding atau perkawinan sedarah antarternak yang rentan memunculkan penyakit.

Kedua, penyebaran penyakit akan lebih bisa dikontrol jika hewan dikandangkan karena dapat diawasi.

“Sehingga dengan adanya integrasi antara peternakan dan perkebunan, limbah tebu bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak,” ujarnya.

Alimuddin mengakui jika limbah tebu memang memiliki kadar protein rendah, sekitar 3-5 persen dibandingkan rumput gajah dan sejenisnya.

Tetapi tambahan protein bisa diambil dari bahan lain.

“Para peternak kini tinggal diedukasi sehingga integrasi yang dimaksud bisa berjalan,” imbuhnya.

Sementara itu, limbah peternakan bisa diolah menjadi pupuk organik untuk dimanfaatkan perkebunan tebu.

Hal ini bisa mengurangi ketergantungan petani tebu terhadap pupuk kimia sehingga berdampak berkurangnya pencemaran lingkungan.

Hal yang juga perlu diketahui petani dan pihak PT SMS adalah, pupuk kimia hanya bisa menyuburkan lahan sesaat.

“Hari ini lahan tebu subur dengan pupuk kimia tapi tahun depan produktivitasnya akan menurun kalau tidak pakai pupuk kimia, berbeda dengan pupuk organik yang tetap stabil karena mekanismenya alami menghidupkan mikro organisme yang memperbaiki struktur tanah,” jelasnya.

Baca Juga: Puskesmas Harus Perbaiki Layanan, OPD Diminta Siapkan Big Data

Dia memaparkan, saat ini semua program secara global harus memiliki visi berkelanjutan atau sustainable development goals (SDS).

Semua jenis usaha yang dijalankan tidak boleh mencemari lingkungan.

“Di sinilah peran akademisi diperlukan untuk mengedukasi semua pihak sehingga semua bisa berjalan beriringan dan saling memberi manfaat,” katanya.

Terpisah, Sekertaris Petani Ternak Ndoroncanga Dompu Syamsu Rijal membantah adanya gesekan antara peternak dengan petani tebu.

Baca Juga: Puskesmas Harus Perbaiki Layanan, OPD Diminta Siapkan Big Data

Fakta yang terjadi menurutnya, justru lahan tebu lah yang dibangun di atas lahan ternak yang merupakan warisan dari nenek moyang warga setempat.

“Kami sebenarnya gak alergi dengan investasi asalkan semua tidak saling mengusik. Jadi investasi jalan, petani tebu dan peternak juga bisa beriringan,” kata Syamsu.

Menurut dia, ada daerah-daerah tertentu di Dompu yang memang cocok ditanami tebu.

Salah satunya Kecamatan Pekat.

Namun memang produktivitasnya masih perlu digenjot lantaran hingga saat ini, PT SMS masih mengimpor gula rafinasi untuk menutupi kebutuhan bahan baku sesuai kapasitas mesin di pabrik.

Syamsu pun tidak menutup ruang jika ke depan, kolaborasi antara peternak dan petani tebu bisa terjalin lebih intens.

Para peternak di Dompu, sebutnya, merupakan orang-orang yang berpendidikan dan berwawasan sehingga sangat terbuka dengan upaya dialog.

Terpisah, petani tebu H Ahmad menyambut baik ide kerja sama yang terintegrasi dengan para peternak.

Baca Juga: Menikah, Dahyun TWICE Terlihat Cantik dan Mempesona Dalam Balutan Gaun Pengantin

Upaya ini diyakininya akan menumbuhkan iklim pembangunan di daerah yang semakin kondusif.

Saat ini,  para petani tebu melalui mekanisme kemitraan mengalami peningkatan secara kuantitas.

Luas lahan pertanian tebu pun semain meningkat baik di wilayah Dompu, sebagian kecil wilayah Bima maupun Labangka, Kabupaten Sumbawa.

“Alhamdulillah, lahan tebu yang saya kelola sekarang luasnya sekitar 2 hektare dari sebelumnya 1 hektare,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini warga di Desa Sekokat Labangka 2 yang menanam tebu sudah mendekati angka ratusan petani.

Baca Juga: Samai Hits “Gangnam Style” PSY, Lagu “Who” Jimin BTS Perpanjang Rekor di Bilboard Hot 100

Mereka semua juga bermitra dengan PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) di Dompu.

Bantuan bibit kini tidak perlu didatangkan dari Dompu karena sebagian sudah bisa diambil langsung dari perkebunan tebu sekitar Labangka.

Ahmad optimis tebu sangat prospektif menjadi salah satu komoditi andalan di daerahnya selain jagung.

Apalagi petani juga antusias ingin menanam tebu di areal sekitar 500 hektare.

Modal yang relatif tidak besar dengan hasil yang sangat menjanjikan menjadi daya tarik bagi mereka untuk beramai-ramai beralih dari jagung ke tebu. (baiq farida/bersambung)

Editor : Kimda Farida
#Tebu Dompu #Universitas Nahdlatul Wathan