LombokPost - Tim Penanganan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) diminta turun langsung ke masyarakat.
Hal ini untuk memaksimalkan penurunan angka stunting.
Wakil Bupati (Wabup) Hanipah mengatakan, sudah melaksanakan rapat koordinasi (Rakor) dengan lintas OPD terkait penanganan stunting.
Semua pihak diminta mengambil peran dalam menekan angka stunting di KSB.
”Saya berharap kepada dinas pengampu organisasi wanita, organisasi perempuan lainnya untuk bisa secara bersama-sama untuk menangani persoalan masalah stunting di Kabupaten Sumbawa Barat,” jelasnya.
Dia mencontohkan peran penting ketua PKK dalam menurunkan angka stunting.
Dengan memanfaatkan posisinya sebagai ketua tim pembina posyandu di masing-masing kecamatan dan desa/kelurahan, maka PKK bisa mengetahui kondisi riil di lapangan.
”Misalnya di masing-masing desa, tentunya mereka tahu seperti apa kondisi riil di desanya masing-masing terkait dengan warganya atau anak-anak yang termasuk dalam status stunting,” jelasnya.
Menurut Hanipah, penanganan stunting ini harus dipahami terlebih dahulu kondisi di lapangan.
Sehingga nantinya bisa fokus mencari cara penanganannya sesuai dengan kategori dan status stunting dari masing-masing anak tersebut.
“Jadi kita ini tidak hanya berbicara di atas meja saja, tetapi yang terpenting adalah kita harus terjun langsung ke lapangan untuk menangani kondisi riil yang dialami warga kita tersebut. Kalau di atas meja saja, persoalan stunting ini tidak akan selesai,” tegasnya.
Kepala DP2KBP3A KSB Agus Purnawan menerangkan bahwa TPPS ini dibentuk untuk mendukung program strategi nasional dalam penanganan stunting.
Untuk mendukung percepatan penurunan stunting, pihaknya telah melakukan Rakor. Hal ini untuk membangun komitmen dan kesepakatan bersama dalam penanganan stunting di KSB.
”Angka penurunan stunting di NTB, kita selalu yang terbaik,” ungkap dia.
Jika dilihat dari tahun 2019, angka stunting KSB 42,73 berdasarkan data SGI.
Pada tahun 2023 berada di angka 10,5 persen. Sementara, akhir Februari 2025 berada di angka 7,10 persen berdasarkan data EPPGM.
”Yang kita tunggu sekarang data angka stunting berdasarkan SSGI. Hasilnya tidak akan jauh beda dengan data SGI, karena metode dan pendekatan yang digunakan hampir sama,” kata Agus. (jlo/r5)
Editor : Siti Aeny Maryam