Di tengah fluktuasi harga pangan saat Ramadan 1447 H, PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) NTB datang membawa "amunisi" bantuan lewat program Terang Berkah Ramadan.
Tak tanggung-tanggung, 1.200 paket sembako murah digelontorkan untuk mencekik tingginya pengeluaran rumah tangga warga.
Namun, ada yang unik dari aksi sosial ini: uang hasil penebusan sembako tersebut ternyata tidak masuk kantong perusahaan, melainkan "diputar" kembali untuk melistriki fasilitas umum secara gratis!
Jurus 'Sekali Dayung' ala PLN
Bukan PLN namanya jika tidak memberikan solusi yang berdampak ganda. Program ini bukan sekadar bagi-bagi beras, minyak goreng, dan gula dengan harga miring.
General Manager PLN UIW NTB Sri Heny Purwanti mengungkapkan bahwa hasil penjualan dari bazar sembako murah ini dialokasikan sepenuhnya untuk menyalakan cahaya di tempat-tempat krusial.
"Tahun ini, kami menargetkan pemasangan listrik gratis di 93 titik. Sasarannya mulai dari rumah ibadah, sekolah, hingga fasilitas publik lainnya di wilayah Sumbawa," tegas Sri Heny.
Sekda Sumbawa Beri Jempol, Warga Terbantu
Aksi nyata ini mendapat apresiasi setinggi langit dari Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, Budi Prasetyo. Menurutnya, langkah PLN ini adalah bukti nyata kolaborasi yang menyentuh langsung urusan "perut" sekaligus infrastruktur energi.
"Kehadiran PLN tidak hanya memastikan lampu tetap menyala, tapi juga memastikan dapur warga tetap ngebul di bulan suci ini," ujar Budi saat menghadiri kegiatan tersebut.
Nurhayati, 45 tahun, salah satu warga yang ikut mengantre, tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. "Alhamdulillah, harganya jauh di bawah pasar. Sangat membantu buat stok sahur dan buka puasa. Terima kasih PLN sudah peduli sama rakyat kecil," ungkapnya haru.
Komitmen Melistriki Hingga Pelosok
Melalui momentum Ramadan 1447 H, PLN UIW NTB ingin menegaskan bahwa misi mereka lebih dari sekadar urusan teknis kabel dan tiang.
Dengan semangat berbagi, PLN berkomitmen memperluas akses listrik hingga ke pelosok Bumi Samawa agar tak ada lagi sudut desa yang gelap gulita.
Editor : Marthadi