Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Desa Sorinomo Dihadapkan Peluang Ekonomi Miliaran Rupiah dari Tebu di Tengah Tantangan Infrastruktur dan Kebijakan

Kimda Farida • Kamis, 26 Maret 2026 | 17:41 WIB

Dengan alat sederhana, petani tebu Sorinomo bertahan dan berkembang, menghidupi keluarga dari manisnya hasil panen.
Dengan alat sederhana, petani tebu Sorinomo bertahan dan berkembang, menghidupi keluarga dari manisnya hasil panen.

LombokPost--Desa Sorinomo, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, kini menjelma menjadi salah satu episentrum pertumbuhan ekonomi berbasis tebu di Pulau Sumbawa.

Hamparan lahan seluas sekitar 1.400 hektare menghadirkan perputaran uang miliaran rupiah yang menghidupi mayoritas warganya.

Namun, di balik geliat ekonomi yang menjanjikan, tersimpan berbagai tantangan yang ternyata masih perlu segera dijawab agar potensi “emas hijau” ini tidak kehilangan momentum.

Tebu sesungguhnya kini telah menjadi tulang punggung ekonomi Desa Sorinomo.

Saat musim panen, desa ini berubah menjadi pusat aktivitas ekonomi dengan perputaran uang yang signifikan.

Hanya dari sektor tebang muat, dana yang beredar mencapai sekitar Rp 700 juta per minggu.

“Secara keseluruhan, aktivitas ekonomi bisa menembus Rp 1 miliar setiap pekan selama masa panen,” kata Kepala Desa Sorinomo Supardi.

Dominasi tebu juga menurutnya terlihat dari komposisi penduduknya, di mana sekitar 80 persen warga desa menggantungkan hidup pada komoditas ini.

Sistem tanam yang efisien melalui metode ratun—yang memungkinkan panen berulang hingga 5–8 tahun—menjadi salah satu faktor utama tingginya minat petani.

Fenomena ini turut mendorong regenerasi petani. Anak-anak muda mulai kembali ke sektor pertanian, setelah melihat peluang keuntungan yang nyata.

Bahkan, kisah sukses petani lokal yang berhasil menembus dunia politik menjadi inspirasi tersendiri bagi generasi berikutnya.

Tak hanya di Sorinomo, geliat serupa juga mulai merambah desa lain seperti Kadindi.

Baca Juga: Ditangkap Polisi, Residivis Asal Dasan Agung Mataram Buang Barang Bukti Narkoba

Perluasan lahan, peningkatan produktivitas hingga dua kali lipat, serta dukungan insentif dari pabrik gula membuat tebu semakin menarik dibanding komoditas lain seperti jagung.

Sejumlah faktor menjadi pendorong pesatnya perkembangan tebu di wilayah Pekat.

Perbaikan jalan usaha tani yang mulai direspons oleh pihak perusahaan menjadi kunci penting dalam membuka akses distribusi.

Di sisi lain, peningkatan kapasitas petani juga berperan besar.

Pola budidaya yang semakin baik mampu mendongkrak produktivitas dari sebelumnya 50–60 ton menjadi hingga 120 ton per hektare.

Dengan pendapatan rata-rata sekitar Rp 45 juta per hektare per tahun dan biaya produksi yang relatif rendah, margin keuntungan petani tergolong tinggi.

Meski peluang terbuka lebar, pengembangan tebu di Sorinomo masih dihadapkan pada berbagai persoalan mendasar.

Persoalan khas di wilayah pertanian umumnya di Sumbawa seperti infrastruktur jalan menjadi keluhan utama.

Ratusan truk pengangkut tebu yang melintas setiap hari menyebabkan kerusakan jalan, sementara perbaikan belum berjalan optimal.

“Kondisi ini diperparah dengan minimnya koordinasi antara pemerintah desa dan pihak perusahaan, sehingga beban perbaikan sering kali ditanggung secara swadaya oleh desa,” keluh Supardi.

Dari sisi kebijakan, tebu juga dinilai belum menjadi prioritas utama pemerintah daerah yang saat ini lebih fokus pada komoditas jagung.

Padahal, kontribusi tebu terhadap ekonomi lokal sangat signifikan, terutama bagi desa-desa sekitar pabrik gula.

Kurangnya intervensi dalam menjaga stabilitas harga di tingkat petani juga menjadi kekhawatiran.

Tanpa dukungan kebijakan yang kuat, potensi ekspansi ke wilayah timur Dompu berisiko melambat.

Di sisi lain, dampak sosial juga mulai terasa. Lonjakan pendapatan saat panen memicu peningkatan konsumsi masyarakat, namun juga diiringi risiko masuknya peredaran narkoba ke desa.

Hal ini menjadi tantangan tambahan yang harus diantisipasi dan ditangani serius bukan hanya oleh pemerintah desa namun juga pemerintahan kabupaten serta aparat keamanan.

Melihat besarnya potensi yang dimiliki, pengembangan tebu di Desa Sorinomo membutuhkan sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat.

Perbaikan infrastruktur jalan, kebijakan harga yang berpihak pada petani, serta skema subsidi transportasi menjadi langkah krusial untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan merata.

Dengan dukungan yang tepat, tebu tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga fondasi utama transformasi ekonomi pedesaan di Dompu.

Bagi masyarakat Sorinomo, harapan itu sederhana: selama semua pihak mau berjalan bersama, manisnya tebu tidak hanya akan terus menjadi penopang kehidupan mereka namun juga mencerahkan masa depan warga dan desa. (*)

Editor : Kimda Farida
#swasembada gula #kawasan tebu nasional #Tebu Dompu #Dompu