Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kades Adam Malik Dorong Kebangkitan Ekonomi Petani Doropeti Lewat Perkebunan Tebu

Kimda Farida • Jumat, 29 Mei 2026 | 09:44 WIB
Adam Malik
Adam Malik
 
Di sela hamparan ladang tebu yang mulai menghijau di Desa Doropeti, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, Kepala Desa Adam Malik menyimpan optimisme besar terhadap masa depan warganya. 
 
Dua tahun terakhir, desa yang berada di kaki kawasan Gunung Tambora itu perlahan berubah.
 
Dari desa yang sebelumnya bertumpu pada jagung, kini tebu mulai menjadi harapan baru masyarakat.
 
-----------------------------
 
“Perubahannya luar biasa,” kata Adam Malik kepada Lombok Post.
 
Perubahan itu bukan sekadar angka produksi. Ia melihat langsung bagaimana hasil perkebunan tebu mulai mengubah wajah desanya.
 
Anak-anak petani kini banyak yang melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi, rumah-rumah permanen mulai berdiri.
 
Aktivitas ekonomi masyarakat ikut bergerak. Dan semua karena keberhasilan bercocok tanam tebu.
 
“Sekarang rumah batu, rumah baru sudah banyak. Itu jelas efek dari tebu,” ujarnya.
 
Baca Juga: Tebu Mulai Jadi Harapan Baru Warga Tambora, Kades Johansyah Optimistis Ekonomi Desa Makin Tumbuh
 
Di Doropeti, luas lahan tebu kini mencapai sekitar 1.200 -1300 hektare. Sementara lahan jagung masih berada di kisaran 1.300 hektare.
 
Namun dalam dua tahun terakhir, minat warga terhadap tebu terus meningkat.
 
Salah satu alasannya sederhana: biaya tanam lebih hemat dan harga jual dinilai lebih stabil dibanding jagung.
 
“Kalau tebu ini hasilnya lebih standar. Harga juga sudah jelas, tidak turun naik,” tuturnya.
 
Stabilitas itu membuat semakin banyak petani baru bermunculan.
 
Adam Malik melihat sendiri bagaimana warga mulai berani membuka lahan dan mencoba peruntungan di sektor perkebunan tebu.
 
Bahkan ada juga sebagian warga desa Doropeti yang ikut serta bertani tebu hingga ke kawasan HGU PT SMS. 
 
Apalagi, kata dia, perusahaan memberikan dukungan berupa bibit gratis dan bonus produksi kepada petani.
 
Baca Juga: Kades Soritatanga Menjadi Juru Bicara Petani di Tengah Ambisi Dompu sebagai Kawasan Tebu Nasional
 
Pada musim panen sebelumnya, petani mendapat bonus Rp 50 ribu per ton dari perusahaan.
 
Nilai itu memang tidak terlalu besar, namun cukup menjadi penyemangat bagi masyarakat.
 
“Karena hasil panennya bagus, masyarakat diberikan bonus. Itu yang membuat petani makin semangat,” katanya.
 
Di balik perkembangan itu, peran kepala desa menjadi cukup penting.
 
Adam Malik tidak hanya mengurus administrasi desa, tetapi juga aktif menjembatani kebutuhan petani dengan perusahaan maupun pemerintah.
 
Salah satu persoalan utama yang sering disuarakan petani adalah ketersediaan pupuk dan alat pertanian.
 
Selama ini, petani masih berebut alat bajak atau traktor karena jumlahnya masih sangat terbatas.
 
“Yang masih sulit itu alat pertanian. Petani masih rebutan jonder,” ujarnya.
 
Ia berharap pemerintah daerah melalui dinas pertanian dapat memberikan bantuan alat pertanian untuk mendukung perkembangan sektor perkebunan di wilayahnya. 
 
Selain itu, ia juga berharap ada dukungan obat pembasmi rumput dari pihak perusahaan agar produktivitas petani tetap terjaga.
 
Meski demikian, tantangan terbesar yang dihadapi Doropeti justru datang dari ancaman kebakaran lahan.
 
Sebagian masyarakat masih membuka lahan dengan cara dibakar.
 
Cara bercocok tanam tebang bakar (sering disebut pertanian berpindah atau pertanian ladang berpindah) adalah metode pertanian tradisional di mana sebagian hutan ditebang dan dibakar ( slash- and - burn agriculture ).
 
Pertanian tebang bakar memiliki beberapa dampak negatif serius meskipun murah dan mudah bagi petani kecil diantaranya bisa mengakibatkan deforestasi dan hilangnya habitat, dan degradasi tanah.
 
Selain itu kerugian berikutnya adalah polusi udara dan emisi CO₂ karena risiko kebakaran hutan yang tak terkendali.
 
Hal yang lebih mengkhawatirkan juga kemungkinan munculnya konflik sosial karena 
penebangan hutan dapat bertentangan dengan hak atas tanah masyarakat adat, kawasan konservasi, dan komunitas tetangga.
 
Baca Juga: Beringin Jaya di Persimpangan: Antara Manisnya Peluang Tebu dan Pahitnya Tantangan Infrastruktur
 
Kondisi itu cukup rawan karena wilayah Doropeti berada sangat dekat dengan kawasan Tambora.
 
Adam Malik mengaku terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar.
 
Selain berisiko merusak perkebunan, kebakaran juga bisa mengancam kawasan hutan di sekitar Tambora.
 
“Kita terus sosialisasikan supaya masyarakat tidak lagi membakar lahan,” katanya.
 
Bagi Adam Malik, masa depan tebu di Doropeti masih sangat menjanjikan.
 
Ia melihat antusiasme warga terus tumbuh. Bahkan, sebagian masyarakat mulai memiliki cita-cita yang sebelumnya terasa jauh, seperti menunaikan ibadah umrah dari hasil berkebun tebu.
 
“Insya Allah beberapa tahun ke depan banyak yang bisa umrah dari hasil tebu,” ucapnya optimistis.
 
Di tengah berbagai keterbatasan, Doropeti perlahan sedang membangun harapan baru dari batang-batang tebu yang tumbuh di ladang mereka.
 
Baca Juga: Jannik Sinner Ngaku ‘Mentok’ saat Tersingkir di Roland Garros 2026
 
Dan di balik geliat itu, ternyata ada peran kepala desa yang terus menjaga semangat petani agar tetap percaya bahwa pertanian bisa mengubah masa depan desa.
 
Selain Desa Doropeti, geliat perkebunan tebu juga berkembang di sejumlah desa lain di Kecamatan Pekat seperti Desa Beringin Jaya, Calabai, Nangamiro, Soritatanga, hingga Desa Tambora.
 
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan di lereng Tambora itu mulai dikenal sebagai salah satu sentra baru perkebunan tebu di Kabupaten Dompu
Editor : Kimda Farida
#Kecamatan Pekat #Desa Doropeti #Tebu Dompu #Gunung Tambora