Maret 1945, Australia mengirim misi rahasia ke Bangko-bangko, Sekotong, Lombok Barat. Pasukan khusus didaratkan di tengah memanasnya Perang Dunia II. Misi tersebut gagal setelah pasukan elite ini kocar-kacir oleh sergapan tentara Jepang.
---------------------------------
Sesaat setelah mengusir Belanda dan mendarat di Lombok pada 1942, Jepang lekas membangun pertahanan. Terutama untuk mengawasi selat Lombok yang menjadi urat nadi utama kapal-kapal militer dan niaga dari Samudera Hindia menuju Laut Jawa.
Terlebih di masa Perang Dunia II, Selat Lombok ini adalah jalur utama bagi kapal-kapal selam sekutu. Alur perairannya yang lebar dan dalam adalah jalur ideal dan aman bagi hilir mudik kapal selam Belanda, Inggris, Australia maupun Amerika dari pangkalan utama mereka di Pelabuhan Fremantle, Australia menuju Laut China Selatan.
Sebagai penguasa baru perairan ini, Jepang tak ingin kecolongan. Mereka langsung memagari selat dengan menempatkan tiga meriam raksasa. Senjata berat kaliber lima setengah inchi tersebut dipasang di Gili Trawangan, pesisir timur Bali dan satu lagi di perbukitan Bangko-bangko, Sekotong. Sejumlah meriam lainnya dipasang di Lombok Utara, dan Lombok Timur.
Proteksi Jepang terhadap Selat Lombok benar-benar menjadi ancaman bagi sekutu. Karena itulah mereka melakukan berbagai cara untuk melemahkan pertahanan Dai Nipon yang mulai terdesak oleh menguatnya serangan sekutu di Pasifik.
Januari 1945 pesawat militer Australia menghujani semenajung Bangko-bangko dengan bom dari udara. Tujuannya menghancurkan pos tentara Jepang yang mengoperasikan meriam di perbukitan tersebut.
Namun hasil evaluasi, serangan itu rupanya tak tepat sasaran. Foto-foto udara menunjukkan meriam buatan Jerman ini nyatanya belum hancur. Moncongnya masih kokoh meneror selat.
BACA JUGA : Lombok dan Jejak Penemuan Teori Evolusi
Berangkat dari catatan ini Australia kembali mengirimkan misi rahasia untuk melucuti senjata mematikan itu. AB Feuer dalam Australian Commandos: Their Secret War Against the Japanese in World War II operasi ini bertajuk “Operation Starfish”. Operasi rahasia ini diluncurkan awal Maret 1945.
Tiga perwira menengah dan seorang sersan disiapkan untuk misi berbahaya ini. Mereka adalah Letnan Lawrie S Black, Letnan Malcolm V Gillies, Letnan James Crafton Moss dan Sersan Alex Hoffie. Keempatnya adalah anggota Z Sepecial Unit.
Ini adalah unit pasukan khusus yang dibangun oleh negara-negara sekutu untuk menghadapi Jepang di masa akhir Perang Dunia II. Unit ini terlatih melakukan operasi-operasi rahasia di daerah-daerah pendudukan Jepang di Asia Tenggara.
Operasi Starfish ini dibagi menjadi dua tahap. Pase pertama memantau dan melaporkan kondisi meriam di Bangko-bangko. Operasi kedua dilanjutkan dengan misi pemusnahan.
Setelah rencana matang keempat personel tersebut berangkat dari Pangkalan Militer Sekutu di Fremantle Harbor, Australia. Mereka menumpang kapal selam canggih milik AS, USS Rock. Dari Australia kapal yang dikomandani Commander Robert A Keating ini menyebrangi Samudera Hindia.
13 Maret 1945 kapal tiba di selatan Sekotong. Namun mereka tak bisa langsung mendarat. Butuh seharian penuh untuk memantau situasi memastkan armada Jepang tak ada di kawasan itu.
14 Maret malam sekitar pukul 22.00 Wita, barulah upaya pendaratan dimulai. Sebuah perahu karet dikeluarkan bersama para personel lengkap dengan logistik dan alat komunikasi. Dalam lindungan gelap malam, para penyusup ini aman dari pantauan musuh.
Namun rupanya halangan itu bukan datang dari Patroli Jepang. Ombak Bangko-bangko yang terkenal kejam rupanya sedang tak berkenan. Perahu karet yang mereka tumpangi diterjang gelombang. Para personel dan peralatannya terhempas.
Lawrie Black mengenang bagaimana buruknya perlakuan ombak selatan terhadap dirinya. Hampir seluruh alat komunikasi terlempar hingga ke Teluk Pengantap. Karena itulah perahu kembali ke USS Rock untuk upaya pendaratan kedua.
BACA JUGA : Lombok hingga Batavia: Perburuan Rempah dan Hasrat Para Penjajah
Sayang, dalam percobaan kedua suar Kapal Patroli Jepang membuat mereka bertahan. Mereka kembali bersembunyi. Jelang subuh, barulah pendaratan kedua akhirnya bisa dilakukan. Tepatnya sekitar enam mil arah timur Tanjung Batugendang.
Bagi Letnan Black pendaratan ini menyisakan trauma. Betapa tidak, perahu karet yang ditumpanginya dibanting ombak ke didnding karang. Arus kemudian menyeret mereka jauh arah timur dari target pendaratan awal.
Beruntung mereka menemukan gua untuk menyembunyikan seluruh peralatan komunikasi, logistik dan tentu saja perahu. Setelah pendaratan ini dinilai berhasil USS Rock pergi meninggalkan mereka. Ia berlalu menyusuri kedalaman Selat Lombok menuju utara. 19 Maret kapal ini dilaporkan tiba di Laut Cina Selatan dengan selamat.
Operasi yang Gagal
Sementara itu di daratan Sekotong empat personel ini mulai beradaptasi dengan lingkungan. Mereka membangun camp dan melakukan komunikasi dengan warga sekitar. Selain membaca situasi interaksi ini dilakukan untuk penyebaran propaganda dan tentu saja mencari tambahan perbekalan. Dari camp di Batugendang mereka berhasil mendapatkan informasi mengenai posisi meriam Jepang di Bukit Pandanan.
Sebulan kemudian tim ini membagi diri menjadi dua. Black dan Hoffie bersama sejumlah warga lokal terus melakukan penyusupan. Sementara Gillies dan Crofton-Moss kembali ke camp pertama untuk melaporkan hasil operasi melalui radio.
Namun dua pekan berikutnya apa yang mereka khawatirkan itu akhirnya tiba. Di suatu pagi yang tenang selepas merapikan sisa-sisa sarapan, pasukan Jepang tiba-tiba menyergap. Tembakan beruntun membuat mereka terpencar menyelamatkan diri.
Dalam pelarian itu Malcolm Gillies akhirnya terluka dan tertangkap. Sedangkan Black dan Hoffie berhasil kabur dan menemukan arah ke kamp tempat mereka mendarat pertama kali. Dari sini mereka melaporkan apa yang mereka alami ke Australia melalui radio. Mereka berdua selamat setelah pesawat amphibi Catalina datang mengevakuasi.
Sementara itu nasib kedua rekannya berakhir tragis. Malcolm Gillies dan James Crofton-Moss tertangkap dan ditawan Jepang. Belakangan pihak Australia menyebut keduanya dipenggal sebelum akhirnya dikebumikan di Commonwealth War Cemetery di Ambon.
Dalam duka mendalam Alex Hoffie dan Lawrie Black mengenang dua rekannya yang mati dalam misi gagal itu. Hoffie meninggal di usia senja pada 1996 disusul Black pada 2009.
Lalu bagaimana dengan Meriam Jepang Itu? Kegagalan ini turut menambah luka bagi sekutu. Namun dendam mereka terhadap Jepang semakin memuncak. Namun tiga bulan kemudian tepatnya 6 dan 9 Agustus 1945, Jepang mendapatkan balasan mengerikan atas apa yang mereka lakukan.
Hiroshima dan Nagasaki dihujani Bom Atom. Sekitar 129 ribu jiwa melayang. Dua kota utama Jepang itu luluh lantak dan membuat Jepang menyerah.
Sementara itu di kedalaman hutan Bangko-bangko meriam Jepang masih tegak berdiri hingga kini. Meski tak segarang dulu moncongnya masih menyumpahi Selat Lombok. Hutan dan tebing Sekotong telah berbaik hati melindunginya dari kekejaman perang dan tentu saja dari kekalahan memalukan yang diderita sang tuan Jepang, di akhir perang. (*)
*) Penulis : Zulhakim, penyuka seni dan budaya tinggal di Ampenan Lombok / Instagram @ kedjoule31
*) Artikel ini pertama kali terbit di Koran Lombok Post 2 April 2017
Editor : Administrator