Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengenang G30S PKI, Penyebab Polisi Sukitman Bisa Lolos Dari Maut Hingga Jadi Saksi Kunci

Fratama P. • Selasa, 23 September 2025 | 14:37 WIB
Sosok Sukitman dalam kasus G30S PKI
Sosok Sukitman dalam kasus G30S PKI

LombokPost - Malam 1 Oktober 1965 menjadi salah satu lembaran paling kelam dalam sejarah Indonesia, ditandai dengan peristiwa kejam Gerakan 30 September (G30S PKI), termasuk untuk Sukitman.

Namun, di tengah kekacauan G30S PKI tersebut, muncul sebuah kisah luar biasa tentang keberanian dan takdir yang menyelamatkan satu nyawa, yaitu Sukitman.

Nama itu adalah Sukitman, seorang Agen Polisi Tingkat II yang secara tidak sengaja menjadi saksi kunci kekejaman yang terjadi di Lubang Buaya.

Pertanyaan yang kerap muncul adalah mengapa Sukitman tidak dibunuh bersama para jenderal, padahal ia termasuk salah satu orang yang ditawan?

Jawabannya ternyata bukan sekadar kebetulan, melainkan gabungan dari tiga faktor krusial: statusnya yang dianggap tidak penting, keberanian yang lahir dari hati nurani, dan takdir yang membawanya menjadi penunjuk jalan bagi pengungkapan sejarah.

Di Waktu dan Tempat yang Salah

Baca Juga: Ciri-Ciri KPM yang Akan Terima Bantuan Beras 20 KG dan Minyak Goreng 2 Liter, Wajib Cek DTSEN Sekarang

Keterlibatan Sukitman dalam tragedi G30S dimulai dari sebuah ketidaksengajaan.

Sebagai seorang polisi muda yang baru dua tahun bertugas, Sukitman sedang berpatroli rutin di sekitar Blok M, Jakarta, pada dini hari nahas itu.

Sekitar pukul 03.00 WIB, suara tembakan yang memecah keheningan malam menarik perhatiannya ke arah kediaman Brigjen D.I. Pandjaitan.

Didorong oleh naluri sebagai aparat, Sukitman mengayuh sepedanya menuju sumber suara.

Namun, keberaniannya justru membawanya ke dalam pusaran peristiwa.

Sukitman dihadang oleh pasukan berseragam loreng, ditodong senjata, dan langsung ditawan.

Tanpa memahami situasi, matanya ditutup dan tangannya diikat.

Sukitman kemudian dibawa bersama para jenderal ke sebuah tempat yang kelak dikenal sebagai Lubang Buaya.

Sukitman bukanlah target utama, melainkan hanya seorang polisi yang kebetulan berada di waktu dan tempat yang salah.

Keberanian Sang Penyelamat

Bagi para pelaku G30S/PKI, fokus utama mereka adalah para perwira tinggi Angkatan Darat.

Sukitman, dengan pangkatnya yang rendah, tidak dianggap sebagai ancaman strategis.

Statusnya yang tidak signifikan ini memberinya sedikit kelonggaran, jeda yang krusial bagi keselamatan nyawanya.

Namun, saat para pelaku menyadari ada saksi hidup, nyawa Sukitman berada di ujung tanduk.

Nyawa Sukitman nyaris melayang, namun seorang anggota Cakrabirawa bernama Sersan Ishak Bahar menolak perintah atasannya untuk mengeksekusinya.

Ishak, seorang santri yang mengabdi sebagai tentara, memiliki nasib serupa dengan Sukitman, ia tidak seharusnya berada di sana.

"Saya tidak tahu apa yang sedang direncanakan (mereka). Saya hanya sopir. Saya hanya jalankan tugas," ungkap Ishak.

Dengan pendirian yang teguh, ia menolak menembak Sukitman.

Saat diperintah menembak, Ishak menjawab dengan jawaban tengil.

"Orang tidak salah kok ditembak." Hati Ishak bergejolak, dan di tengah situasi brutal, ia memilih untuk mendengarkan nuraninya.

Ketika sudah tak diawasi atasannya, Ishak berbisik ke Sukitman, "Kamu ikut saya, percaya saja, cepat!"

Ia kemudian menyembunyikan Sukitman di jipnya dan membawanya pergi, menyelamatkan nyawa Sukitman dari eksekusi.

Menjadi Kunci Pengungkapan Sejarah

Setelah berhasil lolos, Sukitman segera melaporkan apa yang disaksikannya kepada aparat keamanan.

Kesaksiannya menjadi petunjuk paling vital bagi pasukan di bawah komando Kolonel Sarwo Edhie Wibowo.

Pada 3 Oktober 1965, berdasarkan petunjuk dari Sukitman, tim pencari menemukan sebuah sumur tua di kawasan kebun karet Lubang Buaya.

Dari sumur itulah, jenazah tujuh Pahlawan Revolusi berhasil dievakuasi.

Kisah Sukitman adalah bukti bahwa sejarah sering kali dibentuk oleh momen kecil yang tak terduga.

Sukitman selamat bukan karena strategi besar, melainkan karena kombinasi antara dianggap tidak penting dan tindakan berani seorang prajurit yang mendengarkan nuraninya.

Tanpa keberadaannya yang "tak disengaja" di Lubang Buaya, dan tanpa intervensi Ishak Bahar, pengungkapan salah satu tragedi terbesar bangsa ini mungkin akan berjalan jauh lebih sulit.

Adapun nasib Ishak berbeda dengan Sukitman, ia ditangkap dan dipenjara karena keterlibatannya sebagai anggota Cakrabirawa.***

Editor : Fratama P.
#g30s pki #Sukitman