-------------------------
Pada pertengahan tahun 1894, saat iring-iringan serdadu Belanda melakukan konvoi pasukan dari Ampenan ke Cakranegara, mereka melintasi sebuah alun-alun yang indah. Hamparan lapangan luas dengan lintasan (track) pacuan kuda melingkar di tengahnya.
Di pinggirnya, berdiri beberapa balai-balai tempat warga menonton dengan pembatas dari kayu dan bambu. Inilah Alun-Alun Cilinaya, pusat keramaian dan hiburan masyarakat di jantung Kerajaan Mataram.
Setelah Belanda menaklukkan Mataram, kawasan ini terus bersolek. Pasar malam rutin digelar, terutama di sekitar hari besar, seperti perayaan Koninginnedag (Hari Ratu) untuk memperingati hari lahir Ratu Wilhelmina. Acara tersebut diadakan serentak di seluruh wilayah jajahan setiap tanggal 30 April, termasuk di Mataram.
Masyarakat dari berbagai penjuru datang untuk menyaksikan keramaian di Cilinaya. Lidah warga lokal yang sulit berucap "Koninginnedag" kemudian menyederhanakannya menjadi “Hari Besar Kuning”. Pada puncaknya, yakni 30 April, sekolah dan pabrik diliburkan. Selama sepekan, pasar malam menampilkan berbagai karya dan produk unggulan, mulai dari pentas musik, wayang kulit, sabung ayam, hingga judi bola adil. Semua tumpah ruah di sini.
Begitu pula dengan kuliner. Hari Kuning menjadi wadah yang mempertemukan berbagai cita rasa. Inilah momen kaum pribumi mencicipi kue-kue Belanda seperti kaasstengels dan klappertaart. Sebaliknya, noni-noni Indo dengan mudah mendapatkan penganan lokal seperti celilong hingga urap ambon.
Selepas kemerdekaan, magnet Pasar Malam Cilinaya tetap bersinar. Bedanya, pelaksanaan bergeser dari April ke Agustus untuk merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Semarak pasar malam ditambah dengan aneka karnaval dan konser musik. Keramaian rutin inilah yang membuat Cilinaya terus berkembang. Aneka toko, rumah makan, hotel, dan tempat hiburan tumbuh di sekitarnya. Kawasan ini kemudian menjadi motor penggerak industri kreatif di NTB.
Menuju Pusat Bisnis Modern
Tumbuhnya industri pariwisata Lombok di awal dekade 90-an memicu kebutuhan akan tempat hiburan dan pusat perbelanjaan modern yang lebih representatif. Oleh karena itu, pada tahun 1996, Pemerintah Kota Mataram menggandeng PT Pacific Cilinaya Fantasy melalui kontrak Build-Operate-Transfer (BOT) atau Bangun Guna Serah (BGS) untuk mendirikan pusat perbelanjaan modern pertama di NTB bernama Mataram Mall.
Mal ini resmi beroperasi pada 24 November 2000 dan diresmikan langsung oleh Gubernur NTB saat itu, Harun Al Rasyid. Sejak saat itu, Mataram Mall terus berkembang bukan sekadar sebagai tempat belanja, melainkan simbol gengsi dan kemajuan daerah yang tak tertandingi pada masanya. Meningkatnya permintaan membuat pusat perbelanjaan ini memperluas usahanya dengan membangun Mataram Mall II pada 30 Agustus 2008 di sisi selatan.
Wajah Baru: Dari Ritel ke Pelayanan Publik
Zaman terus berubah. Tumbuhnya ekosistem digital mengubah tradisi belanja di mal menjadi belanja daring (online). Hal ini membuat Mataram Mall tak seramai dulu, ditambah dengan hadirnya pesaing baru yang lebih besar, yakni Lombok Epicentrum Mall.
Pemerintah Kota Mataram terus berupaya menghidupkan kembali kawasan ini, salah satunya dengan menghadirkan Mal Pelayanan Publik (MPP). Kini, pengunjung tidak hanya datang untuk berbelanja atau sekadar mencuci mata, tetapi juga dapat mengurus berbagai layanan administrasi pemerintahan.
Sejak Juli 2023, Pemkot Mataram resmi mengoperasikan MPP di lokasi ini. Warga tidak perlu lagi berkeliling kota untuk urusan birokrasi. Mulai dari perizinan usaha, layanan kependudukan, hingga urusan imigrasi dan kejaksaan, semuanya tersedia di bawah satu atap.
"Ini semacam one stop service centre bagi warga Kota Mataram. Penting agar pelayanan bagi masyarakat lebih mudah dan terjangkau," ujar Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana.
Menatap 2026: Menanti Babak Baru
Perjalanan panjang ini kini mendekati persimpangan penting. Kontrak pengelolaan yang diteken tahun 1996 silam dijadwalkan akan berakhir pada tahun 2026. Sebagai pemilik lahan, Pemerintah Kota Mataram bersiap mengambil alih tongkat estafet pengelolaan kawasan bersejarah ini. Sejumlah pihak dikabarkan telah menyatakan minatnya untuk mengelola kawasan strategis tersebut.
Namun, siapa pun yang akan mengelola nanti, tempat bersejarah ini telah membuktikan dirinya sebagai entitas yang dinamis. Ia bukan sekadar bangunan beton, melainkan memori kolektif yang akan terus menjadi saksi tumbuh kembang dinamika sosial-ekonomi warga Kota Mataram.
Editor : Redaksi Lombok Post