LombokPost – Kebangkitan Nasional bukan sekadar catatan sejarah di buku teks sekolah.
Ia adalah titik balik monumental, saat rakyat Nusantara yang terkotak-kotak oleh batas teritorial kolonial mulai sadar akan satu identitas: Indonesia.
Perjalanan ini bermula dari benih kesadaran intelektual yang tumbuh subur di awal abad ke-20.
Baca Juga: Mendagri Ditugaskan Pantau Ekonomi Daerah, Perkuat Soliditas Pemerintah untuk Kebangkitan Nasional
Kebijakan Politik Etis Belanda, meski punya motif menyediakan tenaga administrasi murah, justru menjadi senjata makan tuan.
Pendidikan Barat yang didapat anak-anak elit pribumi justru menanamkan bibit-bibit ide kebebasan, demokrasi, dan nasionalisme.
Berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 menjadi simbol awal pergerakan yang terorganisir.
Meski perdebatan soal "ke-Jawa-an" organisasi ini masih sering mengemuka, tak bisa dimungkiri ia membuka pintu bagi lahirnya organisasi lain seperti Sarekat Islam, Indische Partij, hingga PNI.
Puncaknya, Sumpah Pemuda 1928 mengunci satu tujuan: satu tumpah darah, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia.
Perjuangan ini tidak mudah.
Baca Juga: Dari Sumbawa ke Panggung Nasional: Bale Berdaya dan Kebangkitan UMKM
Represi kolonial sangat kejam.
Pemimpin-pemimpin bangsa keluar-masuk bui. Namun, api nasionalisme yang sudah menyala tak bisa dipadamkan, hingga akhirnya momentum Perang Dunia II membuka celah bagi kemerdekaan yang diproklamasikan pada 1945.
Sebuah perjalanan panjang dari sekadar kesadaran, menuju kedaulatan penuh.
Editor : Redaksi Lombok Post Online