FAJAR baru yang terbit di atas Sungai Nil tidak lagi membawa angin kompromi. Hanya beberapa hari setelah Proklamasi Co-Regency diresmikan di Balai Malkata, stempel emas kekaisaran kini berada di bawah kendali penuh Firaun Muda Amenhotep IV.
Sementara Firaun Tua Amenhotep III beristirahat dalam perawatan ketat di paviliun dalam, sang co-regent muda tidak membuang waktu sekejap pun untuk bersantai menikmati kemewahan takhta.
Ia langsung melancarkan aksi ekonomi pertama yang mengejutkan seluruh elite lama Thebes.
Pagi itu, di Balai Dewan Keuangan Istana Malkata, Wazir Agung Ay dan para juru tulis istana duduk di sekeliling meja batu raksasa yang tertutup puluhan gulungan papirus anggaran negara. Ratu Tiye dan Nefertiti mendampingi sang Firaun Muda, memberikan dukungan strategis dari lingkaran terdekatnya.
Amenhotep IV berdiri menatap lembaran-lembaran papirus yang mencatat aliran emas, gandum, dan tanah kekaisaran. Jemari panjangnya yang ramping menunjuk pada satu kolom angka yang membengkak luar biasa besar: porsi pengeluaran negara yang mengalir rutin setiap perputaran bulan ke gudang-gudang Kuil Karnak.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (16): Proklamasi Co-Regency
"Lihat angka-angka ini, Wazir Ay," suara Amenhotep IV bergaung jernih, tenang namun dingin menusuk. "Hampir empat puluh persen dari hasil panen gandum di wilayah Delta dan setengah dari upeti emas Nubia diserahkan secara cuma-cuma kepada Kuil Amun. Untuk apa? Untuk membiayai gaya hidup ratusan pendeta yang tidak pernah mencangkul tanah, dan untuk membeli kesetiaan politik yang justru digunakan untuk mengkhianati istana ini di Sinai?"
Wazir Ay mengusap dahinya yang berkeringat, menatap Ratu Tiye sebelum menjawab dengan hati-hati. "Itu adalah ketetapan leluhur sejak zaman Thutmose III, Yang Mulia. Rakyat percaya bahwa memotong aliran emas ke Kuil Amun akan membuat Nil berhenti meluap dan tanah menjadi tandus."
"Nil meluap karena kehendak Tuhan yang menggerakkan musim di langit, Ay, bukan karena perut para pendeta Karnak kenyang oleh emas!" potong Amenhotep IV dengan ketegasan yang tak tertahankan.
Sang Firaun Muda mengambil kuas buluh dan tinta merah. Tanpa ragu sedikit pun, ia mencoret porsi anggaran raksasa milik Kuil Karnak di atas papirus resmi negara.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (15): Kesehatan Fir'aun Tua Memburuk
"Mulai hari ini," titah Amenhotep IV dengan nada mengunci hukum, "alokasi emas dan gandum untuk Kuil Karnak dipangkas sebesar tujuh puluh persen. Sisa dana itu akan kita alihkan langsung untuk memperkuat perbentengan perbatasan, memperbaiki irigasi pertanian rakyat kecil, dan membiayai proyek pembangunan kawasan baru!"
Wazir Ay terperanjat, jemarinya gemetar memegang papirus yang baru saja dicoret dengan tinta merah oleh sang penguasa baru. Kebijakan ini bukan lagi sekadar gesekan wacana, melainkan sebuah serangan mematikan yang memotong alur nadi ekonomi utama oligarki teokrasi Thebes.
Ketika keputusan hukum itu sampai ke tangan Pendeta Agung Ptahmoses dan Merire di Kuil Karnak beberapa jam kemudian, suasana Aula Hypostyle mendadak berubah menjadi neraka kebencian.
Merire membanting gulungan papirus maklumat itu ke lantai, wajahnya pucat pasi oleh kombinasi antara amarah dan ketakutan mendalam. "Ini perampokan atas nama hukum! Anak itu memotong anggaran kita! Bagaimana kita bisa membayar ribuan pekerja kuil, membeli minyak wangi impor, dan memelihara jaringan pengawal kita jika tujuh puluh persen pundi-pundi kita disita?!"
Ptahmoses terduduk kaku di atas kursi batunya, jemarinya mencengkeram erat tongkat berkepala domba jantan hingga urat-urat tangannya yang kering menonjol. Gebrakan pertama sang co-regent jauh lebih cepat dan mematikan dari apa yang diperkirakan oleh kalkulasi politik tua mereka.
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (14): Guncangan di Balai Malkata
Dengan memotong anggaran, Amenhotep IV tidak hanya melumpuhkan logistik kuil, melainkan secara perlahan memadamkan taring kekuasaan bayangan yang selama ini mereka gunakan untuk mengendalikan istana.
"Dia ingin mematikan kita dengan melaparkan gerbong kita, Merire," bisik Ptahmoses, suaranya parau bergetar oleh amarah yang pekat. "Dia mengira dengan stempel emas di tangannya, dia bisa menghapus Penguasa Thebes ini dari peta sejarah."
"Apa yang harus kita lakukan, Yang Agung?" tanya Merire dengan napas terengah-engah. "Para pedagang dan jenderal sekutu kita akan panik jika pundi-pundi emas kuil terhenti!"
Ptahmoses perlahan berdiri, sepasang matanya yang rabun berkilat kejam di balik kegelapan ruangan. "Jika dia menggunakan hukum untuk memotong emas kita, maka kita akan gunakan pasar dan jalanan untuk memotong legitimasinya. Perintahkan seluruh pendeta kita turun ke pasar-pasar Thebes. Timbun persediaan gandum yang tersisa di gudang rahasia kita, buat harga roti melonjak esok hari, dan katakan kepada rakyat bahwa kelaparan ini adalah bukti pertama bahwa Firaun baru mereka telah dimurkai oleh Amun-Ra!"
Baca Juga: Fir'aun Akhenaten: Sang Pemindah Ibu Kota (13):Api di Tengah Kegelapan dan Penyusup!
Perang ekonomi dan stabilitas publik kini resmi meletus. Sang Firaun Muda yang bertauhid telah mengayunkan kapak pertamanya pada akar oligarki lama, sementara kasta pendeta tua bersiap membalas dengan menciptakan krisis buatan demi menggoyahkan takhta yang baru saja diduduki oleh sang Fir'aun Muda.
(Bersambung)
Editor : Lalu Mohammad ZaenudinSumber : Beragam Sumber