Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perjuangan Pedagang Cilok di Pusuk Sembalun

Administrator • Senin, 25 Maret 2019 | 14:57 WIB
SIAP MENGHIBUR: Jhon kursi roda siap menghibur para warga Lingkungan Sintung pada pelantikan Kaling Sintung terpilih di lingkungan setempat, Sabtu (23/2) malam
SIAP MENGHIBUR: Jhon kursi roda siap menghibur para warga Lingkungan Sintung pada pelantikan Kaling Sintung terpilih di lingkungan setempat, Sabtu (23/2) malam

Mereka selalu ada di sana. Dengan gerobak dagang yang diboncengkan di atas sepeda motor. Payung seadanya. Keteguhan hati sepenuhnya. Mereka percaya, rezeki harus dicari meski sampai ke puncak tertinggi.


Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur


Gerimis mulai turun. Beberapa pedagang cilok segera berteduh. Beberapa lainnya bertahan. Menunggu air dari langit itu benar-benar membesar. Satu dari dua pedagang cilok yang siang itu bertahan dari gerimis bernama Asri. Di tengah dingin dan kabut yang putih tapi suram, ia menyirami bulatan daging yang dicampur tepung itu.


Setiap hari, sejak pukul 8 pagi, Asri Pratama berangkat ke Pusuk Sembalun. Ia berasal dan bermukim di Desa Pringabaya, Kecamatan Pringgabaya. Dengan Yamaha Jupiter MX, sebuah gerobak dagang yang membawa serta tabung gas 3 kg itu menanjak ke puncak tertinggi. "Tidak ada libur. Setiap hari saya dan teman-teman pedagang pentol (cilok) lainnya berjualan," kata Asri kepada  koran ini.


Mangkalnya tepat di rest area Pusuk Sembalun. Mereka memilih tempat itu, sebab di sanalah para pengunjung berhenti. Menikmati ketinggian, berfoto ria, dan atau yang istirahat dari tanjakan yang panjang.


Suhu dingin dari 7 sampai 20 derajat celsius tentu membuat pentol yang hangat jadi enak. Kata Asri, terkadang karena dinginnya, ia sendiri tak pernah merasa kalau kompornya benar-benar menyala. Katanya, cilok jualannya menjadi buruan para pengunjung. Tapi itu sebelum gempa bumi sejak akhir Juli 2018 lalu terjadi.  "Sejak gempa, tempat ini sepi," kata Asri.


Biasanya, Asri mendapatkan laba bersih sebesar Rp 300 ribu. Tapi sekarang, jangankan laba penuh, terkadang modal pun tak balik. Rp 50 saja sudah lumayan. Terkadang Asri juga harus pulang dengan kantong keuntungan yang kosong.


Untuk mencapai Pusuk, Asri mengisi bahan bakar Lertamax sebanyak dua liter. Di saat kembali pada pukul 5 sore, ia akan mengisi lagi sebelum sampai di rumah. Begitu setiap hari. Tak ada libur. "Kecuali jika di rumah ada kematian, atau acara keluarga. Malu ditinggalkan," terangnya.


Asri mengaku pernah bekerja 17 tahun jadi buruh sawit di Negeri Jiran Malaysia. Karena itu, pekerjaan menjual cilok menurutnya sangat ringan dibanding dengan menjadi TKI di negeri orang. Itulah sebabnya, ia tak pernah libur, meski tahu, kalau setiap saat gempa dan longsor bisa terjadi di sana.


Para pedagang cilok seperti Asri tak sendiri. Setidaknya ada sekitar 20 lebih pedagang lainnya yang berjualan ke Sembalun. Nampaknya sasaran pedagang cilok yang hangat adalah tempat-tempat dingin. Di mana Rp 5 ribu cilok tak pernah cukup untuk tubuh yang diserang suhu di bawah 20 derajat celsius.


Kendati bencana melanda, ditambah menurunnnya tingkat pengunjung, Asri memilih tetap berjualan. Menurutnya, rezeki harus dicari. Urusan ada dan tidaknya masalah lain. "Yang penting kita keluar mencarinya," terangnya.


Di sebelahnya, pedagang cilok lainnya Nasir sedang menyiapkan payung. Kata Nasir, sudah ada dua sampai tiga payung yang rusak karena diterpa angin. Selain dingin, angin juga menjadi tantangan bagi mereka.


"Banyak yang bilang kenapa kami tidak pernah terlihat kedinginan. Mereka tidak tahu, kalau kami memakai baju sampai lima lapis. Kami kan sudah lama di sini, jadi tahu teknisnya," katanya memperlihatkan lapisan-lapisan baju di tubuhnya. (*/r7)

Editor : Administrator
#Selong