Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Di Balik Alasan Jukir RSUD dr R Soedjono Selong Mempertahankan Kehendaknya (2-Habis)

Administrator • Selasa, 6 Agustus 2019 | 10:22 WIB
DEKAT DENGAN WARGA: Seorang jukir RSUD Selong terlihat sedang membantu seorang pengunjung mengangkat barang bawaannya di area parkir, belum lama ini.
DEKAT DENGAN WARGA: Seorang jukir RSUD Selong terlihat sedang membantu seorang pengunjung mengangkat barang bawaannya di area parkir, belum lama ini.
Mereka adalah masyarakat yang hidup di lingkup rumah sakit. Karena itu, mereka tak pernah absen menyisihkan hasil parkir untuk kebutuhan sosial masyarakat. Tak banyak. Tapi mereka meyakini, hal itu menunjukkan warga kampung sekitar rumah sakit yang selama ini dianggap selalu berdiri di belakang mereka.

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

Seorang nenek berusia sekitar 60 tahun pagi itu terlihat kebingungan mengangkat barang-barangnya. Sedang tukang ojek menunggu di balik pintu palang parkir. Zulfahmi, koordinator jukir RSUD Selong segera menghampiri dan membantunya membawa barang tersebut.

Apa yang dilakukan Zul saat itu bukan yang pertama kali. Ia mengingat saat di mana ia harus baku hantam, berduel dengan pencuri yang membawa kabur tas salah seorang pasien.  "Itu satu dari sekian banyak cerita yang kami miliki selama puluhan tahun menjaga rumah sakit ini," kata Zulfahmi.

Ia mengatakan, sebelum jukir didominasi pemuda lingkup Lingkungan Balwo, Kelurahan Majidi, Kecamatan Selong, halaman rumah sakit yang gelap sering dijadikan tempat mabuk-mabukan oleh pemuda. Namun dengan adanya mereka, tanpa dibentak dan diminta pergi pun, para pemabuk sudah malu duluan. "Ya karena mereka ini rata-rata warga sekitar juga," jelasnya.

Artinya, semenjak mereka bekerja jadi jukir di rumah sakit, tanggung jawab mereka tingkatkan. Jika ada pemuda yang tidak memiliki pekerjaan, maka mereka akan akomodir menjadi jukir.  Tak hanya itu, jika dalam sehari mereka berhalangan markir, maka pemuda yang tak punya kerjaan akan ditunjuk untuk menggantikan. Lumayan, sehari markir, bisa dapat sangu buat dua tiga hari ke depan.

Alasan lain, dan mungkin paling penting yang membuat Zul menolak perusahaan adalah rutinitas mereka memberikan sumbangan kepada warga yang mengalami musibah kematian. "Berapapun yang ada, kami selalu sisihkan untuk warga sekitar lingkup rumah sakit," jelasnya.

Ke depan, jika diberikan mengelola kembali, Zul mengatakan akan menyisihkan juga untuk anak yatim dan fakir miskin.  Dua hal tersebut nantinya akan diwujudkan dengan menyisihkan hasil masing-masing jukir.

"Jangan lihat kami yang 24 bekerja di sini, lihatlah cerita pengabdian dan warga kampung yang selama ini selalu ada di belakang kami," jelasnya. (r5/*) Editor : Administrator
#Selong