Sebelumnya ada ritual adat bernama Bubur Beaq pada bulan Muharam, bubur putiq pada Safar, dan maulid adat jaring minyak. “Dan terakhir bejango bliq ini,” kata Ketua Panitia Bejango Bliq Desa Songak Rofil Khairudin.
Ketua Lembaga Adat Darma Jagat Songak Mastur Sonsaka menjelaskan, munculnya tradisi tersebut berawal dari pesan leluhur dan sudah secara turun temurun diyakini warga setempat. Hal itu adalah mendatangi masjid dan makam.
"Leluhur kami berpesan, kalau memiliki hajat untuk datang ke petilasan, harus melalui masjid dulu. Inilah yang menjadi tradisi kami," terangnya.
Bejango sendiri tidak hanya dilakukan sekali dalam setahun. Melainkan dilakukan setiap hari Senin dan Kamis untuk warga yang melakukannya secara individu atau pribadi.
Sementara yang dilakukan secara berjamaah merupakan acara tahunan yang dilakukan secara kelembagaan. “Hal ini sebagai penyempurna dari apa yang kami lakukan sehari-hari," ujarnya.
Kata Mastur, tradisi tersebut bukan hanya atraksi budaya yang bisa menjadi bagian dari destinasi wisata semata. Tapi juga upaya mereka dalam mempertahankan warisan leluhur agar terus dilakukan oleh generasi selanjutnya. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita