“Saat ini kami himpun ada sekitar 53 CPMI yang mengadu ditipu oleh oknum calo,” kata staf lapangan ADBMI Lotim Fauzan pada Lombok Post, Senin (29/11).
Dijelaskan, oknum calo dari Loteng telah menjanjikan pengiriman tenaga kerja ke negara tujuan Kanada dan Polandia. Dalam keterangan yang dihimpun dari korban, oknum calo tersebut meminta korban mengeluarkan uang dengan jumlah yang berbeda-beda. Dari Rp 10 juta sampai Rp 45 juta per orang.
“Sehingga setelah kami akumulasi, jika dirata-ratakan Rp 15 juta per orang, maka total kerugian mencapai Rp 795 juta,” tuturnya.
Dari total 53 korban, dijelaskan 40 orang telah memberikan uang untuk biaya keberangkatan. Sedang 13 orang mengundurkan diri dan memilih bekerja ke luar daerah untuk dapat membayar utang atas pinjaman untuk membayar uang muka pendaftaran.
“Sebelum diberangkatkan, semua korban ini telah diberikan pelatihan bahasa asing di sebuah lembaga pelatihan dan kursus yang ada di Loteng,” terang Fauzan.
Sejauh ini, ADBMI Lotim menghimpun tuntutan para korban. Pertama, korban berharap agar uang mereka bisa dikembalikan. Sebab uang tersebut didapatkan dari hasil menjual barang dan harta benda mereka. Dan juga dari pinjaman. “Karena itu, kami akan mengawal dengan serius kasus ini,” tegasnya.
Fauzan menegaskan, berdasarkan keterangan korban yang dihimpun, oknum calo yang diduga bermain dalam kasus ini juga melibatkan sebuah LSM. “Informasi ini dikuatkan oleh korban yang mengaku lembaga tersebut sudah beberapa kali menemani korban saat mendapatkan pelatihan,” tuturnya.
Sebelumnya, Direktur ADBMI Lotim Roma Hidayat menerangkan, dampak dari pandemi Covid-19 akan berimbas besar pada semakin tingginya keberangkatan ilegal. Di sisi lain, masyarakat juga akan mudah diperdaya oleh janji-janji manis oknum calo yang memanfaatkan situasi dan kondisi sulit yang dihadapi korbannya.
“Sudah sangat banyak kasus yang kami tangani sejak 2020. Dan tidak ada yang bisa dilakukan pemerintah kita,” jelas Roma. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita