“Paling rendah 59 persen, tertinggi pernah mencapai angka 69 persen dari sekitar 10 ribu ASN di Lotim,” tutur Ketua Baznas Lotim Ismul Basar.
Dijelaskan, pengumpulan zakat profesi yang masih terbilang rendah ada pada ASN guru. Sedangkan ASN di lingkup OPD Pemkab Lotim secara umum sudah sepenuhnya menyerahkan zakat profesinya.
Kata Ismul, di kalangan ASN guru, yang paling rendah pengumpulannya berasal dari guru negeri yang berada di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Menurut dia, memang terjadi fluktuasi. Sejak akhir 2019, kemudian memasuki pandemi Covid-19 di awal 2020, terjadi penurunan yang signifikan. “Pernah 69 persen, itu pun diperolah pada bulan suci Ramadan,” terangnya.
Lebih lanjut dikatakan, kesadaran tersebut sebenarnya tergantung dari pimpinan para ASN di sektor tempatnya bertugas. Selain itu, di tengah pandemi Covid-19, pihaknya juga tidak bisa hanya mengharapkan dari zakat profesi saja.
Namun dibutuhkan inovasi baru dalam mengumpulkan zakat di tengah pandemi Covid-19. Terlebih untuk dapat mengejar target Rp 25 miliar per tahun.
Ketua Komisi III DPRD Lotim HL Hasan Rahman sebelumnya menerangkan, selain potensi zakat profesi dari ASN, potensi dari non ASN juga perlu dimaksimalkan. Selain itu, pihaknya juga menyoroti zakat dari proyek pembangunan di setiap OPD. “Banyak potensi yang memang belum dimaksimalkan,” tutur politisi Golkar itu. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita