----
Ratusan bangkai printer menumpuk di tempat kerjanya. Tangannya dipenuhi tinta. Kuku di ibu jari sengaja ia panjangkan. Katanya, hal itu dibutuhkan untuk mempermudahkan saat menjalankan operasi perbaikan printer yang di tangani. Selain hasil kerjanya memuaskan, ia juga merupakan sosok yang murah senyum dan punya banyak cerita lucu.
Parhan Diari, lelaki kelahiran tahun 1975 ini dikenal sebagai ahlinya printer. Menariknya, ilmu itu tidak ia dapatkan dari pembelajaran formal di bangku pendidikan. “Semuanya otodidak. Saya belajar dari membongkar dan merusak sendiri beberapa printer yang saya gunakan,” kata Parhan pada Lombok Post.
Awalnya, sekitar tahun 2005, Parhan membuka jasa layanan pengetikan dan percetakan mendiri di rumahnya. Pengalaman pertama ia belajar memperbaiki printer adalah ketika printer Cannon IP 1900 miliknya tiba-tiba rusak karena kehabisan tinta.
Mengetahui persoalan printer yang baru lima hari dibeli itu rusak, ia pun bertekad untuk mengetahui cara memperbaiki printer sendiri. Satu per satu printer yang ia miliki dibongkar pasang. Sampai ia mengetahui seluk beluk printer.
Dari yang awalnya memperbaiki punya sendiri untuk kebutuhan pribadi, orang-orang akhirnya berdatangan memperbaiki printer di tempatnya. Pada 2012 sampai 2015, ia bisa menerima 10 sampai 30 perinter dalam sehari.
“Dari 2016 sampai 2021, ada penurunan. Tapi sekarang langganan saya yang lama-lama datang kembali,” jelasnya.
Selain hasilnya memuaskan, yang membuat jasa servis printer Parhan diminati adalah harganya yang murah. Bahkan separo dari harga yang ditarif biasanya oleh jasa servis di toko-toko elektronik yang ada di seputar Selong.
Karena membuka praktik seperti itu, dia pernah diprotes. Menjawab protes itu, Parhan mengatakan, wajar jika ia memberi harga murah. Karena tempat praktiknya kecil dan tidak rapi.
“Di mana-mana barang harus mahal harganya, barang kasar murah harganya. Lagi pula tidak ada karyawan yang harus saya gaji,” jelasnya. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita