“Kami memproklamirkan keberadaan sekaligus kebangkitan seni teater di Lotim,” kata penggagas kegiatan Yuspianal Imtihan.
Kegiatan yang diselenggarakan di Gedung Bale Wartawan, Kecamatan Selong itu digelar pada Rabu malam (28/12). Ratusan pencinta seni teater, pelaku kesenian, dan mahasiswa memenuhi gedung pertunjukan.
Kata Yuspianal Imtihan, proklamasi teater digagas oleh sejumlah komunitas teater di Lombok Timur. Selain Perjal Minor yang menggawangi kegiatan tersebut, ada juga teater kapas putih, teater 16, teater merah, sanggar narariawani, dan teater omen si manusia boneka.
Ketua panitia proklamasi teater Yakud menerangkan kegiatan tersebut digelar secara swadaya. Penonton yang hadir juga tidak dipunguti biaya. Hal itu menunjukkan keseriusan mereka dalam menjelaskan kondisi seni teater di Gumi Patuh Karya saat ini.
“Kita ingin senang-senang saja. Bayarannya adalah malam sangat memuaskan. Ratusan penonton bersorak gembira. Puas lima pertunjukan yang kami suguhkan,” jelas Yakud.
Pertunjukan pertama diawali sebuah Monolog dari Sanggar Narariawani berjudul ‘hantu lalat’. Selanjutnya Teater 16 yang memainkan lakon ‘haha hihi’. Pertunjukan ketiga adalah suguhan monolog dari teater merah berjudul ‘hari terakhir amir’. Setelah tiga pertunjukan, barulah teater kapas putih yang menyuguhkan monolog berjudul ‘randuse dan putih abu surga dan cinta’. Proklamasi teater Lotim ditutup dengan pertunjukan drama karya Samuel Beckett berjudul ‘sementara menunggu godot’.
Seorang penonton M Hatta mengapresiasi kegiatan perjal minor kolaborasi tersebut. “Sebuah pertunjukan pergantian akhir tahun yang apik dan menarik. Sangat membahagiakan,” terangnya. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita