“Memang sangat potensial. Hanya saja memang sampai saat ini apa yang ada belum bisa kita kelola dengan baik,” kata Sekretaris Desa Pare Mas Syamsuddin pada Lombok Post.
Salah satu yang destinasi wisata yang dibangun dari anggaran kementerian dalam desa di Pare Mas adalah ekowisata mangrove. Di samping sebuah dermaga yang memanjang ke arah laut, terdapat pohon bakau yang rimbun dan hijau. Sejak awal 2022, tempat tersebut diresmikan dan dikelola Pokdarwis Desa Pare Mas.
Kata Syamsuddin, di empat bulan pertama, ekowisata mangrove didatangi banyak pengunjung. “Dalam sebulan bisa 300 sampai 400 orang,” terang Syamsuddin.
Kedatangan tersebut sayangnya tidak dibarengi dengan upaya pengelolaan yang lebih serius. Semisal menyiapkan tiket masuk, retribusi parkir, pedagang, dan jenis kontribusi yang bisa menghasilkan PADes dari kunjungan wisatawan.
Menurut Syamsuddin, pihaknya belum bisa menarik retribusi karena apa yang ditawarkan dari ekowisata mangrove Pare Mas juga masih jauh dari kata memadai. Karena itu, tahun ini pemerintah desa mencoba menganggarkan dana desa untuk pembangunan sebuah ornamen tugu yang bertujuan untuk memperindah lokasi wisata tersebut.
Diterangkan, ekowisata mangrove sendiri sebenarnya diperkuat dengan adanya rumah makan terapung yang pintu masuknya melalui dermaga di Pare Mas. Selain itu, Teluk Jukung yang menjadi surga budi daya lobster juga disebut sebagai keistimewaan tersendiri dalam menunjang destinasi wisata yang ada di sekitarnya. “Di sini 90 persen warga adalah pembudidaya lobster,” jelasnya. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita