Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pemulangan Jenazah PMI yang Meninggal di Malaysia Terkendala Biaya, Pemuda Desa Anjani Galang Dana

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 5 Maret 2024 | 10:45 WIB

 

Pemuda Desa Anjani bersama LSD Anjani saat penggalangan dana untuk pemulangan jenazah Jupriyadi.
Pemuda Desa Anjani bersama LSD Anjani saat penggalangan dana untuk pemulangan jenazah Jupriyadi.
LombokPost-Jenazah Jupriyadi, pekerja migran Indonesia (PMI) asal Dusun Anjani Timur, Desa Anjani, tak kunjung dipulangkan karena terkendala biaya.

Jupri sebelumnya ditemukan meninggal dunia di perkebunan sawit di Lubuk Antu, Malaysia Timur, akhir Februari lalu.

”Biaya pemulangannya cukup besar dan uangnya juga belum cukup. Kalau untuk kepulangannya sudah positif (dilakukan),” terang Ketua Lembaga Sosial Desa (LSD) Anjani Nendi Wahyu, Minggu (3/3).

Pemulangan jenazah Jupri membutuhkan biaya Rp 35 juta lebih.

Saat ini pihak keluarga bersama tim dari LSD Anjani tengah mengumpulkan dana dengan mencari bantuan dari berbagai pihak.

Hanya saja dana yang terkumpul masih sangat sedikit.

Terkait pemulangan jenazah Jupri, pihak keluarga sudah menyepakati dilakukan bersama agen dari Malaysia Timur.

Saat ini jenazah masih dilakukan proses otopsi untuk mengetahui penyebab kematiannya.

”Kami di LSD juga tengah membantu untuk mengumpulkan dana pemulangan korban. Sembari menunggu otopsi selesai dilakukan,” ungkapnya.

Selain itu, untuk memenuhi kebutuhan biaya pemulangan jenazah Jupri, pemuda Desa Anjani ikut melakukan penggalangan dana. Pihak keluarga pun siap menjual asetnya.

Sebelumnya, diceritakan Nuraini, istri Jupri, Jupri bersama temannya merantau ke Bali beberapa bulan yang lalu.

Sepulang dari Bali pada Selasa (13/2), Jupri bersama temannya langsung memesan tiket ke Malaysia Timur. Berangkat mandiri, tanpa sponsor maupun tekong.

Sebelum berangkat Jupri meminta izin kepadanya untuk pergi ke Malaysia Timur secara ilegal. 

”Tapi di mertua saya, dia bilang berangkat resmi. Karena kalau izin ilegal, mertua saya marah-marah dan tidak diizinkan,” bebernya.

Setelah keberangkatan suaminya, Aini terakhir berkomunikasi dengan Jupri pada Rabu pagi (21/2).

Saat itu, Jupri hendak menyeberang menuju Malaysia melalui jalur laut.

Lalu pada Kamis siang (22/2), dia mendapat kabar dari teman Jupri, bahwa keduanya sudah tiba di Malaysia Timur.

”Dikabari kalau suami saya ditabrak sepeda motor pada saat dia berjalan kaki menyusuri jalan. Karena dia ilegal makanya dia jalan menelusuri perkebunan sawit,” bebernya.

Berdasarkan keterangan teman Jupri, saat ditabrak kondisi korban masih sadar.

Kemudian temannya pergi mencari pertolongan kepada pekerja yang ada di sekitar lokasi kejadian.

Akan tetapi setelah balik mencari pertolongan itu, dia tidak menemukan Jupri di tempat. Temanya itu langsung mencari di sekitar lokasi. Tapi korban tidak ditemukan.

Sejak itu keluarga Jupri terus berusaha menghubungi namun tidak bisa.

Kemudian pada Sabtu malam (24/2), seorang tetangga Aini melihat di Facebook, KTP dan mayat Jupri ditemukan dalam keadaan membusuk.

Setelah telusuri, mayat tersebut dipastikan Jupri. Terbukti dari baju yang dikenakan korban. (cr-par/r11)

Editor : Marthadi
#Anjani #Meninggal #PMI #LSD #ilegal #Malaysia #Lombok Timur