LombokPost-Desa Sekaroh di Lombok Timur (Lotim) setiap tahunnya mengalami krisis air bersih tanpa mengenal musim.
Kondisi ini membuat masyarakat harus rela mengonsumsi air hujan ketika musim hujan, namun saat musim kering, air payau yang menjadi andalan. Berikut ulasannya.
---------------------------
Tong penampung air berwarna merah dan sejumlah ember kecil berjejer di samping rumah warga.
Tong ini mereka gunakan untuk menampung air hujan yang jatuh melalui genteng rumah.
Terlihat air yang ditampung sangat keruh, meskipun kotoran sudah mengendap di bawah tong.
Bagi masyarakat Desa Sekaroh, menampung air hujan merupakan hal yang sudah biasa dilakukan.
Air hujan ini sengaja ditampung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tidak hanya untuk mandi dan mencuci, bahkan juga minum.
Seorang warga desa, Sohariah menceritakan, beberapa hari terakhir wilayah Desa Sekaroh dan sekitarnya sudah mulai diguyur hujan.
Namun krisis air bersih tidak kunjung selesai. Bahkan kesulitan air bersih ini hampir terjadi sepanjang tahun, karena tidak ada sumber mata air yang bisa dimanfaatkan warga.
”Untuk kebutuhan sehari-hari, kita beli air ke Desa Tutuk. Karena cuma itu satu-satunya sumber mata air yang bisa dimanfaatkan masyarakat di Kecamatan Jerowaru,” terang Sohariah, Minggu (17/11).
Kata dia, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, warga harus membeli air seharga Rp 140 per tangki.
Bagi masyarakat yang tidak punya tandon penampung air seperti dirinya, hanya membeli menggunakan jeriken atau galon dengan harga Rp 5 ribu per satu jeriken ukuran 25 liter.
Air yang dibeli ini, hanya bisa digunakan 5-6 hari, bahkan kurang. Ketika musim hujan saat ini, warga lebih memilih memanfaatkan air hujan.
Ini untuk mengirit pengeluaran biaya pembelian air.
”Iya ini (air hujan, red) kita minum, tetapi kita masak dulu baru diminum. Ada sumur tapi airnya payau, makanya hanya cukup untuk mandi. Kalau untuk minum kita beli air galon, tetapi kalau hujan kita minum air hujan,” bebernya.
Kata dia, minum air hujan merupakan hal yang sudah biasa dilakukan warga setiap musim hujan tiba.
Karena tidak ada lagi air yang bisa diandalkan. Kondisi air tangki yang dibeli tidak jauh beda dengan air hujan, ini yang mengakibatkan mereka lebih memilih menampung air untuk diminum.
Kendati mereka sadar bahwa air hujan kurang baik untuk diminum.
Kekeringan di Desa Sekaroh, tidak terjadi sebulan dua bulan, namun kesulitan air bersih di tempat ini sudah berpuluh-puluh tahun lamanya.
Sejak tahun lalu sudah ada jaringan air bersih masuk ke desa Sekaroh. Namun tidak ada air yang mengalir sejak dipasang.
”Tahun lalu kami pasang water meter dengan harga Rp 500 ribu, sebagai uang muka. Nanti kita bayar lagi kalau airnya sudah masuk. Tetapi sampai sekarang tidak ada air yang mengalir. Mungkin semua Water meter warga sudah rusak,” katanya.
Sementara itu, Kepala Desa Sekaroh Mansur menyampaikan, masyarakat di Desa Sekaroh setiap hari membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berbagai upaya telah dilakukan pemdes untuk mengatasi persoalan air bersih ini. Seperti melakukan pengeboran namun tidak berhasil. Air yang didapatkan semuanya payau.
”Air PDAM tidak ada yang masuk, water meter yang dibeli masyarakat tidak berfungsi, karena tidak ada airnya dan sudah banyak yang rusak,” katanya.
Disebut, masyarakat desa Sekaroh siap mengeluarkan biaya untuk pemasangan water meter atau jaringan air bersih dari PDAM maupun SPAM pantai selatan.
Dengan jaminan air bisa mengalir dan ke tengah-tengah warga.
Keberadaan SPAM pantai selatan diharapkan bisa segera beroperasi untuk mengatasi persoalan air bersih yang bertahun-tahun dirasakan masyarakat Desa Sekaroh.
Air bersih adalah persoalan utama bagi masyarakat Sekaroh yang tidak selesai. Jumlah kepala keluarga (KK) di desa Sekaroh sebanyak 200 KK dengan 5.000 jiwa yang terdampak kekeringan. (supardi/r11)
Editor : Kimda Farida