Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pilu Warga Gili Re Lotim Saat Cuaca Ekstrem, Dibayangi Kerusakan Tempat Tinggal, Harus Stok Makanan Sebulan 

Supardi/Bapak Qila • Rabu, 11 Desember 2024 | 18:45 WIB

 

BENCANA: Lalu Iqbal Ranggajati, warga Gili Re, Desa Pare Mas, Kecamatan Jerowaru, saat membersihkan reruntuhan rumahnya akibat diterjang hujan dan angin kencang, Selasa (10/12).
BENCANA: Lalu Iqbal Ranggajati, warga Gili Re, Desa Pare Mas, Kecamatan Jerowaru, saat membersihkan reruntuhan rumahnya akibat diterjang hujan dan angin kencang, Selasa (10/12).
 

Musim hujan seperti saat ini, menjadi musim paling berat bagi warga Gili Re di Desa Pare Mas, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur (Lotim).

Selain berpotensi merusak rumah karena cuaca ekstrem, ini juga membuat aktivitas masyarakat terganggu. Mereka sulit untuk pergi ke daratan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Berikut ulasannya. 

--------------------

Udara pagi itu cukup kencang, perahu nelayan yang terparkir di Pelabuhan Telong-elong Kecamatan Jerowaru terombang-ambing dihantam gelombang.

Tak jauh dari pelabuhan sederhana Gili Re itu, seorang pemuda terlihat membersihkan puing reruntuhan rumah, yang disebabkan angin kencang disertai hujan pada Senin (9/12).  

Pemilik rumah Lalu Iqbal Ranggajati menceritakan, beberapa hari terakhir intensitas hujan cukup tinggi.

Cuaca ekstrem ini mengakibatkan dua rumah warga di Gili Re rusak. Namun hanya satu rumah kerusakannya paling parah.

”Kejadiannya Senin (9/12), sekitar pukul 14.00 Wita. Saat itu kami sedang di dalam rumah. Tiba-tiba satu tiang teras roboh,” terang Iqbal saat ditemui di rumahnya. Selasa (10/12).

Tidak berselang lama, satu tiang rumah kembali ambruk, sehingga merusak tembok rumah yang lain.

Selang beberapa jam kemudian, tembok rumah sebelah kiri ambruk.

Melihat peristiwa itu Iqbal berlari untuk menyelamatkan diri. Tidak berani lagi masuk ke dalam rumah.

”Takut rumahnya tiba-tiba roboh. Makanya atap teras yang masih tersisa kita sangga menggunakan bambu,” jelasnya.

Kata Iqbal, jika angin kencang datang lagi, rumahnya bisa saja rata tanah. Mengingat beberapa sisi bangunan sudah retak dan atap rumah mulai terbuka.

Kondisi ini membuatnya terpaksa harus mengungsi di rumah tetangga.

Cuaca ekstrem ini diakui tidak hanya merusak rumah warga.

Namun juga mengakibatkan aktivitas warga setempat menjadi terganggu.

Masyarakat Gili Re yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil melaut, saat ini hanya bisa diam di rumah.

”Pagi ini memang kondisi gelombang masih bagus, tapi kalau sudah hujan hampir-hampir naik ombak ke pemukiman warga,” katanya.

Dampak cuaca buruk ini juga mengakibatkan masyarakat tidak bisa menyeberang ke daratan untuk membeli kebutuhan pokok.

Namun beberapa hari sebelumnya masyarakat sudah mengantisipasi kejadian tersebut.

Sehingga jauh-jauh hari masyarakat di Gili Re telah menstok bahan pokok untuk kebutuhan sebulan ke depan atau selama cuaca ekstrem terjadi.

Kondisi ini hampir terjadi setiap tahun dan berlangsung hingga tiga bulan ke depan.

Hal yang paling berat bagi warga Gili Re ketika saluran air bersih macet di saat cuaca ekstrem.

Masyarakat terpaksa harus melawan gelombang untuk sekadar membeli air menggunakan jeriken ke darat.

”Kadang dalam sebulan itu 4-5 kali kita keluar membeli air melawan cuaca buruk,” ungkapnya.

Selain itu, yang cukup memprihatinkan ialah anak-anak SMA yang sekolah ke Jerowaru di saat cuaca buruk.

Tidak jarang perlengkapan sekolah mereka rusak dan basah saat pergi maupun pulang sekolah. Hal ini juga kerap membuat anak-anak sering libur selama musim hujan.

”Untuk sekarang harapannya bisa ada bantuan perbaikan rumah. Kalau melihat kerusakan, kita harus buat ulang, karena temboknya banyak yang retak,” tandasnya. (Supardi/r11)

Editor : Kimda Farida
#Ekstrem #warga #angin kencang #intensitas #pelabuhan #Lotim #cuaca #Hujan