Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Puluhan Hektare Tanaman Padi di Desa Rarang Lombok Timur Terdampak Cuaca Buruk

nur cahaya • Kamis, 13 Februari 2025 | 13:35 WIB

 

PANEN: Buruh tani memanen padi di sawah Dusun Repok Payung, Desa Rarang Kecamatan Terara yang roboh akibat diterjang hujan lebat dan angin kencang.
PANEN: Buruh tani memanen padi di sawah Dusun Repok Payung, Desa Rarang Kecamatan Terara yang roboh akibat diterjang hujan lebat dan angin kencang.
 

LombokPost-Puluhan hektare tanaman padi milik petani di Dusun Repok Payung, Desa Rarang Kecamatan Terara, Lombok Timur (Lotim) roboh  terdampak hujan lebat disertai angin kencang beberapa hari terakhir ini. “Rata-rata tanaman padi di Dusun Repok Payung ini terdampak cuaca buruk. Sehingga banyak petani yang memilih untuk panen lebih awal,” terang Lalu Mulianom salah seorang petani di Desa Rarang, Rabu (12/2).

Padi yang roboh ini rata-rata sudah  berbuah dan beberapa pekan lagi akan panen. Sehingga petani memilih panen lebih awal untuk mengantisipasi potensi kerugian yang cukup besar. Dijelaskan pula, beberapa petani juga terancam gagal panen.

Berbagai upaya telah dilakukan petani untuk menyelamatkan padi mereka yang roboh. Mulai dari membuat parit pembuangan air di tengah-tengah tanaman padi, hingga membuat penyangga. Namun hal tersebut sia-sia, tetap saja padi roboh diterjang angin kencang. “Di tengah-tengah sawah kita buat parit-parit kecil agar sawahnya tetap kering. Karena kalau sawahnya tergenang maka padi yang roboh dan belum di panen bisa-bisa tumbuh lagi,” katanya.

Selain membuat tanaman roboh, cuaca ekstrem ini juga membuat tanaman terserang penyakit. Mulai dari terserang penyakit busuk leher atau belas leher, kemudian terkena virus xanthomonas, hama burung bahkan terserang hama tikus.

Kondisi ini membuat produksi gabah sangat berkurang pada panen tahun ini. Biasanya dalam satu hektare, produktivitas gabah mencapai 8-9 ton. Namun dengan kondisi cuaca saat ini saat  produksi maksimal hanya dua ton. “Sudah jelas petani akan merugi. Apalagi sekarang ini harga gabah juga sedang murah. Harga gabah saat ini kurang dari Rp 500 ribu per kuintal ditambah lagi dengan cost produksi sekarang juga cukup mahal,” jelasnya.

Ketua Kelompok Tani Taruna Tani Wahana Desa Rarang Lalu Suandi memperkirakan luas lahan yang terdampak cuaca ekstrem sekitar 40-50 hektare. “Di Dusun Repok Payung ini saja mungkin sekitar 40-50 hektare terdampak. Karena lebih banyak yang roboh dari pada yang masih berdiri,” ungkapnya.

Kondisi ini disebut membuat petani memilih untuk panen lebih awal. Meskipun buah padi masih sangat hijau dan belum waktunya panen. Padi dengan jenis Impare 32 maksimal berumur 95-100 hari baru bisa dipanen. Namun dengan cuca saat ini petani panen pada usia 80-90 hari.

Dirinya berharap pemerintah bisa membantu para petani. Terutama untuk menyerap gabah petani dengan harga yang lebih mahal. Sebab harga gabah kering panen (GKP) tingkat petani saat ini berkisar Rp 400- Rp 470 ribu per kuintal. Sehingga dengan harga ini membuat petani akan merugi. “Jelas petani akan merugi, sudahlah panen lebih awal, diserang hama ditambah lagi dengan harga gabah saat ini murah. Mudah-mudahan pemerintah bisa membantu para petani dengan menyerap gabah petani dengan harga lebih mahal,” tandasnya. (par/r6)

Editor : Rury Anjas Andita
#penyakit #harga #Cuaca Buruk #Lahan #Padi #Petani #angin kencang #panen