Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Sekolah Ambruk Terpaksa Siswa Belajar di Emperan, Mereka Berhak Dapat Fasilitas Pendidikan yang Baik!

nur cahaya • Minggu, 13 April 2025 | 19:27 WIB

 

RUSAK: Kepala SDN 6 Batuyang dan SMPN Satap 2 Pringgabaya Muksin melihat kondisi ruangan belajar yang roboh karena termakan usia, Jumat (11/4).
RUSAK: Kepala SDN 6 Batuyang dan SMPN Satap 2 Pringgabaya Muksin melihat kondisi ruangan belajar yang roboh karena termakan usia, Jumat (11/4).
 

LombokPost-Tiga ruang belajar di SDN 6 Batuyang Kecamatan Pringgabaya tiba-tiba roboh. Hal ini diduga karena kondisi bangunan sekolah yang sudah termakan usia, diperparah oleh dampak gempa bumi tahun 2018 lalu. “Yang ambruk memang satu ruangan. Tapi dua ruangan yang lain ikut terdampak. Ruangan ini ambruk saat anak-anak sedang belajar,” terang Kepala SDN 6 Batuyang dan SMPN Satap 2 Pringgabaya Muksin saat ditemui Lombok Post, Jumat (11/4).

Kondisi tiga ruangan belajar tersebut saat ini cukup memprihatinkan dan sudah tidak bisa digunakan. Sebelum libur lebaran ruangan tersebut masih digunakan. Namun setelah masuk (8/4) lalu, terpaksa dikosongkan mengingat kondisi ruangan sangat berbahaya.

Total ruangan di sekolah tersebut sembilan kelas. Namun yang masih layak digunakan hanya tiga kelas. Kondisi ini mengakibatkan proses belajar mengajar sangat terganggu. “Hanya tiga ruangan yang masih tersisa, itu pun kondisinya juga sangat memprihatinkan. Sebagian besar siswa belajar di teras, lapangan sekolah, dan rumah warga,” katanya.

Selain bangunan SDN, tiga ruangan SMP satap 2 Pringgabaya yang rusak akibat gempa 2018 lalu hingga saat ini tidak kunjung di perbaiki dan terbengkalai. Kerusakan tersebut beberapa kali diajukan ke Dikbud untuk segera diperbaiki. Namun sampai saat ini tidak kunjung terealisasi.

Photo
Photo

Kondisi sekolah yang rusak berat ini juga mengakibatkan banyak siswa yang memilih pindah ke tempat lain, terutama siswa SMPN Satap. Diharapkan pihak terkait segera memperbaiki sekolah tersebut. Agar proses belajar mengajar bisa normal dan lebih efektif. “Kasihan anak-anak harus belajar di lapangan. Kalau hujan tentu merek tidak bisa belajar, kalau cuaca panas mereka cukup terganggu dengan debu,” pungkasnya.

Pihak komite sekolah Munadi mengaku kecewa dengan pemerintah terutama Dikbud Lotim. Mengingat sejak tahun 2018 lalu sekolah telah diusulkan untuk segera diperbaiki. Namun sampai saat ini tidak kunjung ada respons dari pemerintah. “Apakah gara-gara lokasi kami di tempat terpencil sehingga kami dilalaikan dan tidak di perhatikan oleh pemerintah. Kami sudah menghadap ke kadis dikbud dan mereka juga sudah melihat kondisi sekolah ini. Tapi sampai sekarang tinggal tidak ada respons sama sekali dari mereka,” ujarnya.

Disebutkan, sekolah-sekolah yang mendapatkan renovasi tahun ini dinilai masih sangat layak untuk di gunakan, dibandingkan SDN 6 Batuyang, yang kondisinya 70 persen sudah rusak.

Dikatakan, sejak tahun 2018 lalu masyarakat ingin menutup total sekolah tersebut. Karena kondisi sekolah yang berbahaya. “Sejak dulu masyarakat ingin menutup sekolah ini dan demo ke dikbud. Tapi saya larang mereka, dan sekarang sudah tidak bisa dibendung lagi emosi warga. Warga tetap mengotot ingin menutup sekolah ini, karena sangat membahayakan anak-anak,” pungkasnya. (par/r6)

Editor : Pujo Nugroho
#roboh #belajar #bangunan #Sekolah #kadis #membahayakan #terbengkalai