Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) menjadi tempat untuk introspeksi diri, berubah menjadi lebih baik. Salah satu caranya, dengan mendalam agama, termasuk mengaji bagi yang Bergama Islam.
-----------------------------------------------
Azan duhur mulai dikumandangkan dari masjid Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas IIB Selong. Orang-orang dari balik jeruji besi itu terlihat bergegas mempersiapkan diri untuk menjalankan salat berjamaah. Tanpa dikomando, mereka berjalan tertib menenteng sajadah menuju masjid. Semua begitu serupa masyarakat pada umumnya di luar sana.
Beberapa orang yang tiba terlebih dulu langsung menggelar sajadah, menjalankan salat sunah sembari menunggu rekan lainnya. Seusai zikir dan doa bersama, mereka langsung mengambil Alquran masing-masing. Beberapa orang terlihat dibimbing oleh petugas untuk membaca Alquran.
Jeruji besi, buka hanya sebatas tempat untuk menjalani hukuman. Tempat itu sangat pas untuk memperdalam nilai-nilai keagamaan, agar bisa menjadi lebih baik lagi. “Salah satunya ialah dengan mengikuti program belajar mengaji,” terang Ahmad Sihabudin, kepala Lapas Selong, Selasa (29/4).
Dikatakan, melalui program belajar mengaji ini, Lapas Selong membina dan mengajarkan para warga binaan untuk membaca mulai dari dasar, yaitu Iqro sampai Alquran. Semua itu agar para napi mampu membaca Alquran dengan baik dan benar.
Kegiatan ini rutin dilakukan, dengan mendapatkan bimbingan langsung dari petugas dan tenaga pengajar keagamaan yang berkompeten. Setiap pagi, malam dan sore, warga binaan berkumpul di ruang pembinaan untuk belajar membaca, memperbaiki tajwid, serta memahami kandungan ayat-ayat suci Alquran. “Yang terpenting adalah bagaimana menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari di dalam Lapas dan saat kembali ke masyarakat nantinya,” katanya.
Bagi sebagian besar napi di Lapas Selong, program ini menjadi pengalaman pertama mereka, untuk mendalami Alquran secara serius. Bahkan tidak jarang yang sebelumnya buta huruf. Berkat belajar intensif, kini mereka mampu membaca Alquran dengan lancar dan mengkhatamkannya.
Program ini mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, termasuk dari keluarga para warga binaan. “Semoga setelah selesai masa pembinaan ini, kedepannya mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” pungkasnya.
Salah satu warga binaan inisial JI, 28 tahun mengaku sebelumnya dirinya tidak pernah belajar mengaji. Berkat adanya pembinaan di Lapas Selong ini, ia bisa belajar, benar-benar dari nol. Pembinaan itu diakui sangat berarti baginya. “Sekarang sudah mau khatam,” singkatnya. (Supardi/r6)
Editor : Prihadi Zoldic