Maimanah merupakan satu dari sekian banyak pelukis perempuan di Lombok Timur (Lotim).
Karyanya cukup terkenal bahkan salah satu karyanya berhasil masuk sebagai lukisan terbaik dunia.
Sebagai seorang pelukis sudah puluhan tahun digeluti.
Pahit manis menjadi seorang pelukis sudah habis dilalui. berikut ulasannya.
------------------------------------
Ruangan berukuran sekitar 3x4 meter itu dipenuhi lukisan berbagi model. mulai dari lukisan bunga, karakter, alam dan puluhan lukisan anak-anak.
Dua piagam penghargaan terlihat juga dipajang di tengah-tengah lukisan itu. Hampir semua sisi tembok dipenuhi lukisan dan beberapa foto panduan mewarnai.
Sepintas ruangan itu mirip kelas belajar Taman Kanak-kanak (TK).
Namun dari ruangan sederhana inilah puluhan pelukis muda Lotim lahir.
Tempat ini juga sekaligus menjadi saksi perjalanan Maimanah menjadi seorang pelukis ternama di Bumi Patuh Karya.
Sanggar Lukis Arus Ide. itulah nama yang disematkan Maimanah dengan tempat sederhana yang beralamatkan di Lingkungan Seruni, Kelurahan Selong, Kecamatan Selong ini .
Tempatnya tidak terlalu besar namun cukup bermakna bagi perempuan yang akrab disapa ibu Anah itu.
Maimanah menceritakan awal mula dirinya terjun di dunia melukis pada tahun 1993 lalu.
Saat itu ia baru selesai dari bangku SMA. Dan tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang ke lebih tinggi, lantaran terkendala biaya.
“Meski tahun itu saya masih tergolong pelukis pemula, tapi saya cukup produktif, saya berhasil membuat puluhan lukisan, “Beber Maimanah saat ditemui Lombok Post di Sanggar Arus ide miliknya, Minggu (27/4).
Selain melukis, saat itu ia merupakan seorang atlet pencak silat.
Bahkan ia dipercaya menjadi pelatih ekstrakurikuler pencak silat di sejumlah sekolah di Lotim.
Meskipun saat itu ia hanya seorang tamatan SMA.
Bakat melukis dan bela diri diakui berjalan secara berbarengan, dan bakat melukis sudah mulai dirasakan sejak masih duduk di bangku SD.
Namun sejak SMA bakat melukis tersebut semakin terlihat, sehingga ia ditawarkan untuk mengajar seni budaya di salah satu sekolah di Lotim.
"Karena syarat untuk mengajarkan harus S1, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah di IKIP ambil jurusan olahraga. Meskipun saat itu usia saya juga sudah tua," katanya.
Diakui, untuk menjadi seorang pelukis profesional membutuhkan waktu cukup panjang dan konsistensi.
Bahkan dirinya telah mendatangi berbagai sangar lukis untuk belajar.
Diantaranya sanggar lukis Jepun, Sangar seni lukis berugak dan beberapa sanggar lainnya.
Setelah bertahun-tahun menimba ilmu melukis, ia akhirnya mulai percaya diri untuk menawarkan dan memamerkan karyanya.
Puluhan pameran telah diikuti mulai dari tingkat kabupaten hingga tingkat internasional.
"Sejak mengikuti berbagai pameran akhirnya lukisan saya banyak diminati dan laku. Sejak itulah saya semakin semangat untuk melukis," katanya.
Setelah malang melintang di dunia lukis, ia kemudian memutuskan untuk mendirikan sangar lukis arus ide pada tahun 2012 lalu.
Dengan niat untuk berbagi ilmu dengan masyarakat sekitar, terutama anak-anak usia dini.
Sejak berdirinya sangar arus ide, tempat itu tidak pernah sepi dari orang-orang yang belajar melukis, mulai dari anak-anak, hingga ibu-ibu pejabat.
Sejak berdirinya sanggar tersebut, ia juga berhasil melahirkan puluhan pelukis profesional di Lotim, bahkan beberapa anak didiknya berhasil menjadi guru lukis ternama di Lotim.
Tidak jarang anak didiknya juga keluar sebagai juara melukis baik tingkat kabupaten hingga tingkat internasional.
“Seminggu itu full jadwal di sini. Kita buka tiga kelas, mulai dari kelas dasar, mewarnai dan seterusnya. kelasnya kita gabung dari anak-anak maupun dewasa, tergantung materinya. jadi tidak dikelompokkan sesuai umur tapi sesuai dengan materi. Jadi walaupun ibu-ibu tetap gabung dengan anak-anak, ”katanya.
Selain aktif mengajar melukis di sanggar seni arus ide, saat ini ia juga aktif mengajar di SMPN 1 Selong dan salah satu SD di kecamatan Selong, sebagai guru seni budaya.
Selain membuat sanggar seni arus ide sebagai tempat anak-anak dan ibu belajar melukis, ia juga membuat sanggar khusus untuk pelukis perempuan di Lotim.
Baca Juga: Pengaspalan Akses Jalan Menuju PLTP Mataloko Tunjang Mobilitas Hasil Panen Petani
"Dalam waktu dekat ini kami akan melakukan pameran lukisan. Yang dilakukan oleh perupa-perupa perempuan di Lotim. Bagi saya seni lukis ini sudah melekat dalam diri saya, sehingga saya lebih memilih menjadi seorang pelukis dan meninggalkan atlet pencak silat," tutupnya. (Supardi/r6)
Editor : Kimda Farida