LombokPost - Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Lombok Timur (Lotim) masih tergolong tinggi. Kondisi ini menjadi perhatian dan salah satu fokus utama Pemkab Lotim tahun ini.
“Tahun 2024 AKB kita mencapai 157 orang dan AKI 24 orang. Menurut saya angka ini masih sangat tinggi. Sehingga AKB dan AKI tahun ini menjadi salah satu fokus kita, termasuk stunting,” kata Bupati Lotim H Haerul Warisin, Senin (7/7).
Hingga Juni 2025, tercatat 69 kasus kematian bayi dan 8 kematian ibu. Tahun ini diharapkan jumlahnya bisa ditekan. Targetnya, di sisa tahun 2025, kasus hanya terjadi satu kali setiap bulan.
Untuk menekan angka tersebut, bupati meminta para bidan desa mengevaluasi pola penanganan sebelumnya. Diharapkan pelayanan terhadap ibu hamil dan melahirkan bisa lebih maksimal.
“Jadi semua harus bisa mengevaluasi kinerja tahun lalu, kira-kira kurangnya di mana. Ini bukan hanya tugas bidan desa saja, tapi tugas semua,” katanya.
Kader desa juga diminta aktif berkoordinasi dengan bidan dan tenaga kesehatan dalam memantau kondisi ibu hamil di wilayah masing-masing.
Pemeriksaan rutin harus dilakukan, terutama untuk memperkirakan waktu persalinan agar tidak terjadi keterlambatan penanganan.
“Kita minta bidan-bidan desa untuk terus mengecek kesehatan ibu hamil kita. Perhatikan HPL-nya. Jangan sampai dia terlambat,” katanya.
Untuk desa-desa pelosok, pemkab siap menambah tenaga kesehatan, khususnya bidan, sesuai kebutuhan wilayah dan jumlah penduduk.
“Mudahmudahan angka AKI yang delapan dan AKB 69 ini tidak bertambah lagi. Karena kita sudah di bulan ketujuh 2025 ini,” harapnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Lotim Inna Fahria optimistis angka AKI dan AKB bisa menurun tahun ini, asalkan seluruh pihak bekerja sama.
“Penurunan AKI dan AKB ini harus diantisipasi mulai dari remaja. Karena tidak bisa dilakukan saat ibu itu sedang hamil atau mau melahirkan saja. Namun sejak remaja kita sudah memberikan pelayanan dengan membentuk kelas remaja,” katanya.
Seluruh Puskesmas di Lotim telah memiliki layanan kelas remaja sebagai bagian dari upaya pencegahan dini. Selain itu, juga disiapkan layanan kesehatan bagi calon pengantin (catin) hingga masa persalinan.
IBI bahkan telah bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3AKB) Lotim untuk menghadirkan aplikasi “Siap Hamil”. Calon pengantin yang terdata akan didampingi secara rutin.
“Dengan adanya aplikasi itu kita bisa tahu mana Catin yang layak untuk hamil dan tidak. Sehingga kami bisa berikan penanganan dan pendampingan,” katanya.
Ia menegaskan, seluruh desa di Lotim, termasuk wilayah terpencil seperti Pulau Maringkik dan gili-gili di Kecamatan Keruak, sudah memiliki bidan desa. Bahkan, beberapa desa terpencil ditempatkan 2–3 bidan untuk memperkuat layanan.
“Semua desa sudah memiliki bidan desa, hampir tidak ada yang tidak memiliki. Bahkan beberapa desa kami tempatkan 2–3 bidan,” tutupnya. (par/r7)
Editor : Pujo Nugroho