Suara logam beradu memecah pagi di kampung itu. Bukan panggilan bahaya, melainkan tanda datangnya cilok legendaris yang sudah mengisi kenangan warga selama puluhan tahun.
Dialah Nasar, sang penjual cilok yang setia berjalan kaki sejak 1985, menyusuri desa demi desa dengan gerobak hijau tuanya.
SUPARDI, Lombok Timur
TENG, teng, teng. Suara gear motor bekas yang dipukul dengan besi spion terdengar nyaring di tengah perkampungan. Spontan, para ibu muda bergegas keluar rumah. Wajah mereka sumringah melihat sosok laki-laki paruh baya mendorong gerobak sederhana.
Suara itu tak asing lagi bagi mereka. Gerobak jadul berwarna hijau cerah itu seakan membawa kembali kenangan puluhan tahun silam. Hampir semua warga mengenal lelaki bertubuh pendek itu.
Dialah Nasar, pedagang cilok asal Desa Masbagik Selatan, Kecamatan Masbagik. Ia mulai berjualan sejak 1985 dan masih konsisten menjajakan dagangannya dengan berjalan kaki dari rumah.
“Saya tidak ingat pasti kapan mulai jualan. Intinya sejak masih muda sudah mulai jalan kaki keliling desa,” terang pria yang akrab disapa Acang, Senin (7/7).
Selama puluhan tahun, hampir tak ada yang berubah dari jualannya. Mulai dari bentuk cilok yang kecil dan kenyal, saus bumbu khas, hingga gerobak tua yang ia dorong setiap hari masih sama sejak awal berjualan.
Ia bercerita, dulunya ia berjalan kaki dari rumahnya di Masbagik hingga ke Kecamatan Sakra Timur. Saat orang lain masih terlelap, ia sudah menyusuri jalanan desa menuju sekolah dasar dan kampungkampung kecil.
“Sepuluh tahun saya jualan ke Desa Tangi, Kecamatan Sakra Timur. Setelah itu pindah ke seperti Moyot, Kabar, dan Rumbuk sampai sekarang,” ungkapnya.
Ciloknya dikenal dengan sebutan “Cilok Aca”, memiliki ciri khas yang membedakannya dari cilok lain. Selain tekstur yang kenyal dan ukuran kecil, sausnya dibuat dari bumbu ragi Sesiong, masakan khas Lombok yang biasa disajikan saat pesta. Inilah yang membuat rasanya unik dan disukai pembeli.
“Saya mulai jualan setelah salat subuh, pulang sekitar pukul 11.00 sampai 12.00 Wita. Alhamdulillah hampir tak pernah ada sisa. Meski sekarang banyak pedagang cilok baru,” tuturnya.
Selama berjualan, ia tak pernah tertarik menggunakan sepeda motor. Meski sempat mencoba, tapi hanya sebentar karena merasa kurang nyaman. Berjalan kaki dinilainya lebih sehat. Terbukti hingga kini ia tak pernah mengalami sakit serius. Hanya flu, batuk, dan sakit kepala biasa yang kadang ia alami.
“Alhamdulillah selama ini tidak pernah sakit parah, apalagi sakit kaki. Hanya flu, batuk, dan sakit kepala biasa. Minum Bodrex langsung sembuh,” ujarnya.
Hasil jualan cilok keliling menjadi satu-satunya tumpuan untuk menghidupi dirinya bersama dua anaknya. Bahkan dari hasil ini, ia mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke jenjang pendidikan tinggi.
Salah satu anaknya sempat diterima melanjutkan ku liah di salah satu universitas di Yaman. Namun karena kendala tertentu, akhirnya memilih kuliah di Lombok.
“Dulu saya sempat berhenti jualan selama tiga tahun. Saya ke Malaysia cari biaya untuk persiapan kuliah anak di Yaman. Tapi ada kendala, jadi tidak jadi dan diterima di universitas di Lombok. Alhamdulillah sekarang sudah mau selesai,” tutupnya. (*/r7)
Editor : Pujo Nugroho