Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pelajaran Penting Dari Tragedi Rinjani, Ketika Keindahan Gunung Terselimuti Duka dan Krisis Komunikasi

Nurul Hidayati • Senin, 21 Juli 2025 | 18:48 WIB
MENUJU PUNCAK RINJANI: Inilah jalur menuju puncak Gunung Rinjani. Dewan mendorong pemerintah segera melengkapi berbagai peralatan yang mendukung keselamatan dan evakuasi.
MENUJU PUNCAK RINJANI: Inilah jalur menuju puncak Gunung Rinjani. Dewan mendorong pemerintah segera melengkapi berbagai peralatan yang mendukung keselamatan dan evakuasi.

LombokPost – Gunung Rinjani, dengan puncaknya yang gagah di ketinggian 3.726 meter, selalu menawarkan dua sisi yaitu keindahan memukau dan tantangan mendebarkan.

Namun, pada pertengahan Juni 2025, keindahan itu tercoreng oleh tragedi yang menyisakan duka mendalam dan memicu sorotan tajam, bahkan dari kancah internasional.

Dikutip dari umj.ac.id dikatakan oleh Dosen Ilmu Komunikasi FISIP – Universitas Muhammadiyah Jakarta Hari Eko Purwanto, M. I. Kom menerangkan Juliana Marins, pendaki asal Brasil, yang menjadi sorotan utama.

Kecaman atas lambatnya respons tim penyelamat Indonesia pun bermunculan.

Bahkan, Pemerintah Brasil mengirim diplomat untuk menyelidiki kasus ini, dengan keluarga Juliana secara terbuka menuding adanya kelalaian dan komunikasi yang tidak jujur dari pihak berwenang Indonesia.

Netizen global, terutama dari Brasil, menyuarakan kemarahan, kesedihan, dan kritik keras terhadap minimnya transparansi informasi terkait upaya penyelamatan.

Komunikasi harus hadir sejak detik pertama, jujur bahkan saat jawaban belum ada, dan humanis, karena di balik setiap insiden ada orang tua yang kehilangan anak, relawan yang mempertaruhkan nyawa, dan masyarakat yang ingin percaya.

Ke depan, Indonesia membutuhkan tata kelola krisis yang lebih lincah dan komunikasi yang tidak hanya berpihak pada prosedur, tetapi juga pada nurani. Pemerintah dan media sosial harus menjadi mitra dalam menyampaikan kebenaran. Kepercayaan publik dibangun melalui ketulusan, ketepatan, dan kehadiran nyata, baik di lapangan maupun di layar-layar kecil kita.

”Mari kita belajar dari Rinjani, dari sunyi yang menelan suara, dari kabut yang menutup sinyal. Kecepatan teknologi memang penting, tetapi kepekaan hati tetap lebih utama. Semoga tak ada lagi nyawa yang menunggu viral hanya untuk didengar,” tuturnya.

Editor : Pujo Nugroho
#Gunung Rinjani #internasional #publik #brasil #Juliana