LombokPost - Setelah di-launching beberapa hari lalu, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur (Lotim) mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), di lingkungan SRMA, di eks Akper, Kecamatan Sakra.
"Kegiatan MPLS ini dilakukan selama dua Minggu. Kegiatan ini untuk menjadikan anak-anak lebih ceria dan tidak mudah bosan ketika di asrama," terang Kepala SRMA 38 Lotim Ahmad Apandi.
Kegiatan MPLS ini juga bertujuan untuk merubah pola dan kebiasaan anak di rumah masing-masing yang tidak teratur. Baik dari waktu belajar, makan, waktu tidur, bangun tidur dan lainya, sehingga menjadi lebih disiplin lagi.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Jenjang SD di NTB Mulai Rekrut Siswa
Meningkatkan kedisiplinan ini diakui tidak mudah dan membutuhkan waktu lama. Namun ia meyakini dengan adanya kegiatan MPLS dan pembelajaran di sekolah rakyat ini para siswa akan menjadi lebih tertata dan disiplin menjalankan pembelajaran.
"Total siswa kita sebanyak 125 orang yang berasal 21 Kecamatan di Lotim. Mereka akan tinggal di asrama, semua kebutuhan dan perlengkapan di Asrama sudah lengkap. Tapi memang saat ini belum 100 persen yang datang, ada beberapa fasilitas masih dalam perjalanan," imbuhnya.
Disebutkan, siswa-siswi yang masuk di SRMA ini merupakan anak dari masyarakat miskin kategori desil 1-2 atau miskin ekstrem. Perekrutan siswa SRMA juga mengacu pada data DTKS atau yang saat ini sudah menjadi Data Terpadu Ekonomi Nasional (DTSEN).
Baca Juga: 9 Persen Guru Sekolah Rakyat Mengundurkan Diri, 65 Sekolah Rakyat Akan Beroperasi September
SRMA ini sama seperti sekolah pada umumnya. Di mana setiap tahun akan melakukan penerimaan siswa baru dan mengikuti tahun pelajaran yang sama, termasuk kurikulumnya juga berasal dari Kemendikbud.
"Nanti setiap Minggu ada kunjungan dari orang tua atau keluarga mereka, kita jadwalkan setiap hari Minggu. Dari 125 orang itu dibagi menjadi 5 kelas, satu kelas isinya 25 orang," ungkapnya.
Selain fokus belajar di sekolah, para siswa juga akan mengikuti ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Bahkan ekstrakurikuler ini menjadi langkah dalam mengembangkan dan membentuk karakteristik siswa.
Baca Juga: Prabowo Pamer Keberhasilan MBG, Sekolah Rakyat, hingga Ketahanan Pangan, Sidang Tahunan DPR/MPR
Bahkan melalui sekolah rakyat ini, pemerintah juga siap untuk memfasilitasi semua kegiatan siswa untuk mengembangkan keterampilan siswa. Meski pun kegiatan pelatihan dilakukan di lembaga-lembaga berbayar.
"Mereka suka olahraga, kita siapkan pelatihnya. Dia mau latihan di fasilitas yang berbayar kita siap bayarkan. Jadi pembelajaran tidak hanya terfokus di sekolah saja, kalau dia mau keluar, misalnya main futsal, karena di sini belum ada lapangan, kita siap bayarkan mereka lapangan," jelasnya.
Tidak hanya itu, SRMA juga telah bekerja sama dengan sejumlah SMKN di Lotim untuk pengembangan bakat dan hobi siswa. Seperti siswa yang bakat di bidang memasak akan bekerja sama dengan SMKN yang memiliki jurusan tata boga, pun dengan siswa yang hobi di bidang otomotif akan bekerja sama dengan SMK yang memiliki jurusan otomotif.
Baca Juga: Lahan Belum Klir, Sekolah Rakyat di Pringgarata Lombok Tengah Molor Dibangun
Sekolah rakyat ini merupakan program prioritas yang dihajatkan untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan di Indonesia. Di samping itu orang tua dari siswa SMRA ini juga akan dibantu untuk mendapatkan modal usaha dan bantuan lainnya.
"Termasuk kalau ada rumah orang tua mereka yang tidak layak juga akan dibantu, karena program SR ini merupakan program lintas kementerian " tutupnya.
Sementara itu, salah seorang siswi SRMA 38 Lotim Riska asal Kecamatan Selong mengaku sangat bahagia dan bersyukur dengan adanya program sekolah rakyat ini. Melalui program ini dirinya bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi, karena sebelumnya harapan untuk sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sudah pupus.
SBaca Juga: Banyak Murid Sekolah Rakyat Mengundurkan Diri, Menteri Sosial Ungkap Alasannya
"Sangat senang, Alhamdulillah bisa sekolah lagi. Sebelumnya memang saya ingin sekolah tapi tidak punya biaya. Bersyukur ada sekolah rakyat ini," pungkasnya. (par/r6)
Editor : Prihadi Zoldic