Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Anyaman Pandan yang Tak Padam di Dusun Pandan Berduri, Kerajinan Turun-temurun yang Bertahan Meski Hasilnya Tak Sebanding dengan Kerja Buruh Sera

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 23 September 2025 | 20:39 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi

 

LombokPost - Anyaman tangan-tangan perempuan di Dusun Pandan Berduri, Desa Mamben Lauk, Kecamatan Wanasaba, tetap hidup hingga kini. Dari helai-helai pandan kering, lahirlah tikar tradisional menjadi penopang ekonomi

Dua perempuan paro baya duduk di pekarangan rumah. Seorang di antaranya terlihat menggulung potongan daun pandan kering yang telah dipotong kecil. Satu per satu gulungan itu diikat agar lebih mudah dikerjakan.

Di sampingnya, seorang perempuan lain tampak lihai menganyam. Tangannya cekatan merangkai potongan daun pandan kering, menyatukan dari satu sisi ke sisi lainnya. Dialah Muslihan, 65 tahun, perajin tikar pandan. Hampir seluruh warga dusun ini menggantungkan hidup dari kerajinan turun-temurun tersebut.

“Saya mulai membuat tikar sejak masih anak-anak,” terang perempuan yang akrab disapa Inaq Nurul itu saat ditemui Lombok Post, Senin (22/9).

Bagi warga Pandan Berduri, membuat tikar sudah menjadi pekerjaan tetap. Meski hasilnya tak seberapa untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka tetap melakukannya. Jika ada pekerjaan lain sebagai buruh serabutan, aktivitas menganyam biasanya terhenti sementara.

Menurutnya, jika dikerjakan penuh, dalam sehari bisa menghasilkan dua tikar. Tikar pandan terbagi dalam tiga kelas dengan harga berbeda. Hasil kerajinan biasanya langsung diambil pengepul.

“Kelas satu itu, anyaman pandannya lebih kecil, sehingga lebih kuat dari yang lain. Kemudian kelas dua pandannya agak besar dan paling besar itu kelas tiga, jadi harganya juga beda-beda,” katanya.

Untuk kelas satu dijual dengan harga Rp 80 ribu per satu tikar, sedangkan untuk kelas dua dijual seharga Rp 50 ribu, dan kelas tiga dibandrol hingga Rp 30 ribu. Namun untuk kelas satu jarang diproduksi, biasanya diproduksi jika ada yang memesan.

Hingga kini peminat tikar pandan masih banyak. Produk ini memiliki pasar tersendiri, meski berbagai model tikar modern kian menjamur di pasaran. “Alhamdulillah tetap laku, ratusan tikar dipasarkan pengepul setiap hari dan selalu terjual,” katanya.

Selain dipasarkan di pasar tradisional Lombok, tikar pandan juga kerap dikirim ke Sumbawa, Bima, Dompu, Bali, Jawa, dan sejumlah daerah lain.

Meski Desa Mamben Lauk dikenal sebagai kawasan pertanian, kerajinan ini tidak pernah ditinggalkan warganya. Bagi mereka, tikar pandan bukan sekadar kerajinan, melainkan warisan nenek moyang yang harus dijaga, meski penghasilannya kecil.

“Tidak bisa hilang pekerjaan ini, kalau dari sisi pendapatan, lebih baik menjadi buruh serabutan. Tapi ini menjadi peninggalan orang tua yang harus dijaga,” katanya.

Baca Juga: Dekranasda NTB Genjot Promosi Kerajinan Sumbawa

Pandan sebagai bahan baku juga tetap dilestarikan. Nama Dusun Pandan Berduri bahkan diambil dari banyaknya tanaman pandan yang tumbuh di wilayah itu. (*/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#Tikar #Lotim #kerajian