Lombokpost-Naim memadukan wisata alam dengan budaya di Desa Tetebatu. Melalui kain songket buatan ibunya, Naim mampu menarik banyak minat wisatawan asing untuk datang langsung ke Ayu Songket Hand Weaving.
Keberhasilan Naim membangun agen perjalanan wisata memberi manfaat nyata bagi usaha kain songket milik ibunya. Setiap hari, hand weaving miliknya tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan mancanegara.
Ayu Songket Hand Weaving kini menjadi salah satu destinasi wajib bagi wisatawan asing. Tempat ini merupakan satu-satunya lokasi pembuatan songket di Desa Tetebatu.
"Kami ingin membranding Desa Tetebatu ini juga sebagai daerah wisata tenun, bukan hanya wisata alam. Supaya wisata di Desa Tetebatu semakin lengkap, mulai dari wisata budaya, alam, kerajinan," ungkapnya.
Untuk membuat satu lembar selendang, dibutuhkan waktu minimal satu bulan, bahkan lebih, tergantung tingkat kesulitan motif. Semakin rumit motifnya, semakin lama pula proses pengerjaannya.
Hampir setiap hari ia terus memproduksi tanpa libur. Ia bahkan enggan meninggalkan hand weaving miliknya. Kain songket yang dibuat memiliki beragam motif, di antaranya motif nanas, ceker, wayang, mawar, barong, lumbung, dan kain komak. Dari semua motif itu, motif wayang menjadi yang paling sulit dikerjakan.
"Kalau dulu hanya ada satu motif. Tapi sekarang motif semakin berkembang," katanya.
Sejak memiliki hand weaving sendiri, pendapatan ibunya meningkat signifikan. Pada waktu-waktu tertentu, penghasilannya bahkan bisa dua kali lipat dibanding sebelumnya, saat kain songket hanya dijual ke pemilik olshop.
"Kalau dulu kita jual di orang. Tapi sekarang kita sendiri yang jual langsung kepada mereka (turis), tawar-menawar langsung ke mereka," jelasnya.
Diakui, hand weaving dan agen perjalanan wisata miliknya baru berusia dua tahun. Meski masih tergolong baru, usahanya mampu bersaing dengan pelakau wisata lain yang sudah lebih lama berdiri. Selain mengelola hand weaving, ia juga memiliki restoran dan kini tengah membangun penginapan.
"Selain datang belajar kain songket, di sini tamu juga langsung makan dan minum. Alhamdulillah lumayan lah tamu ke sini. Mudah-mudahan nanti kita bisa buat lagi,” ujarnya.
Dari agen perjalanan wisata yang ia rintis, Naim mempekerjakan puluhan orang, mulai dari pemuda hingga orang tua, sebagai guide, juru masak, hingga driver. Ia berencana terus mengembangkan usahanya agar dapat membuka lebih banyak lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Dirinya tak ingin pengalaman menjadi pekerja migran kembali dirasakan generasi muda di desanya. Ia berharap melalui agent wisata miliknya, akan lahir lebih banyak pelaku wisata baru.
"Cita-cita besar saya, saya ingin membuka lapangan kerja bagi anak-anak muda dan bisa membuat usaha sendiri dari sini. Saya tidak ingin ketika mereka tidak bisa kuliah mereka menjadi buruh migran. Cukup saya yang merasakan," tutupnya.
Editor : Siti Aeny Maryam