Rumah sederhana itu tampak baru mulai direnovasi. Batako baru tersusun setinggi satu meter, kusen jendela sudah terpasang, namun sisa kayu lapuk bekas rumah lama masih terlihat. Beberapa bagian tampak dimakan rayap, menyisakan jejak rumah reot yang dulunya berdiri di tempat itu.
Rumah tersebut milik Jumaeni, anak yatim piatu asal Desa Bagik Papan, Kecamatan Wanasaba. Bertahun-tahun ia tinggal di rumah peninggalan orang tuanya bersama sang kakak. Kini, rumah itu tengah diperbaiki berkat uluran tangan Bripka Agus Salim, Bhabinkantibmas Desa Bagik Papan.
Bripka Agus bukan sekadar polisi pengayom masyarakat. Ia dikenal luas karena kepeduliannya terhadap warga kurang mampu, anak yatim, dan penyandang disabilitas.
Setiap bulan, ia rutin menyalurkan bantuan berupa tongkat, kursi roda, sembako, hingga merenovasi rumah warga yang kondisinya memprihatinkan.
“Kegiatan sosial ini saya lakukan sejak tahun 2014 lalu, sejak saya masih menjadi Bhabinkantibmas di Desa Puncak Jeringo, Kecamatan Suela,” beber Bripka Agus Salim kepada Lombok Post, Minggu (19/10).
Meski saat ini bertugas di Desa Bagik Papan, kepeduliannya tak berhenti di wilayah binaannya. Ia juga membantu masyarakat di sejumlah desa lain di Lombok Timur dengan berbagai bentuk bantuan.
Renovasi rumah Jumaeni menjadi rumah ketujuh yang telah diperbaikinya. Rata-rata rumah yang dibangun kondisinya sangat memprihatinkan, bahkan nyaris roboh namun tetap ditempati pemiliknya.
“Rumah ini milik anak yatim piatu. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan, atapnya bolong, dindingnya robek. Tapi rumah ini masih ditempati oleh mereka bertiga bersama kakaknya dan iparnya,” ujarnya.
Renovasi rumah Jumaeni dilakukan bersama pemerintah desa. Desa menyediakan bahan bangunan, sementara biaya tukang dan kekurangan bahan ditanggung Bripka Agus.
Sebelumnya, sebagian besar rumah yang direnovasi ia biayai dari kantong pribadi tanpa bantuan pihak lain. Tak jarang ia membangun rumah dari nol dengan biaya sekitar Rp 25 juta.
“Kita coba koordinasikan dulu dengan pemerintah. Kalau memang tidak bisa, saya tangani sendiri dengan biaya sendiri,” ujarnya.
Uang untuk kegiatan sosial itu ia kumpulkan dari gaji dan hasil bertani, termasuk keuntungan dari program pemberdayaan ternak kambing yang ia jalankan bersama warga.
“Kalau anaknya dua, kita sama-sama satu. Setelah berhasil, kita pindah ke yang lain. Nah hasilnya itu saya jual untuk bedah rumah maupun bantuan sosial lainnya,” katanya.
Sebelum memberikan bantuan rumah, ia selalu meninjau langsung kondisi penerima. Rata-rata rumah yang ia bangun atapnya bocor, berdinding anyaman bambu, dan penghuninya hidup dalam kondisi ekonomi yang serba kekurangan.
Selama menekuni kegiatan sosial, ia sudah banyak menghadapi ujian. Mulai dari diremehkan, bantuan yang tidak dihargai, hingga cibiran dari berbagai pihak. Namun semua itu tidak menyurutkan niatnya untuk terus berbagi.
“Karena awal saya bergerak di bidang sosial ini karena hati saya tergerak melihat kondisi masyarakat yang kurang mampu. Jadi niat saya betul-betul ingin membantu, bukan yang lain,” tutupnya.
Editor : Siti Aeny Maryam