LombokPost-Puluhan kanvas putih berdiri tegak di bibir Pantai Sunrise Land Lombok. Di bawah langit cerah dan semilir angin laut, para pelukis menatap ombak, menggoreskan kuas, dan mengubah pemandangan sederhana menjadi karya penuh warna dan makna.
Suara debur ombak berpadu dengan deru angin pantai menjadi latar harmoni bagi para seniman Lombok Timur (Lotim). Di tangan mereka, hamparan pasir, kelapa, dan karang di pesisir Pantai Sunrise Land Lombok (SLL), Labuhan Haji, menjelma lukisan yang hidup di atas kanvas.
Hari itu, para perupa Lotim menggelar Pelangi Warna Dari Timur (PWDT), sebuah kegiatan tahunan yang merangkai beragam aktivitas seni. Salah satunya live painting, melukis langsung di alam terbuka. Destinasi pantai dipilih karena dinilai mampu menggugah inspirasi dan sekaligus menarik perhatian wisatawan.
“Ini tahun keempat kami gelar live painting. Tahun lalu di pegunungan, sekarang di pantai,” ujar M. Zulfiandi, panitia sekaligus pelukis asal Lotim, Selasa (28/10).
Ia menjelaskan, kegiatan serupa sebelumnya digelar di Tanjung Luar, Jurit Baru, dan Sembalun. Setiap tahun, lokasi dan tema berbeda dipilih agar seniman terus beradaptasi dengan karakter alam Lombok yang kaya warna.
PWDT tidak hanya menampilkan seni lukis profesional. Di sela kegiatan, digelar pula bimbingan mewarnai gratis bagi anakanak. Tujuannya sederhana, memperkenalkan warna dan dunia seni sejak dini.
“Tidak semua anak mengenal semua warna. Lewat kegiatan ini, mereka belajar, bermain, dan mulai mencintai seni,” jelas Zulfiandi.
Pengunjung pun tak ingin ketinggalan. Mereka diberi kesempatan melukis, dibimbing langsung oleh pelukis profesional. Sensasi melukis di alam terbuka ternyata menjadi daya tarik tersendiri. Banyak pengunjung yang berebut ingin mencoba.
Hasil lukisan yang terkumpul akan diperbaiki dan dijual. Uangnya digunakan untuk santunan anak yatim dan pengobatan gratis bagi warga lanjut usia.
“Semua murni dari iuran dan hasil jual lukisan. Tidak ada bantuan pemerintah,” tegas Zulfiandi.
Kegiatan ini, kata dia, bukan sekadar hiburan visual. Melainkan cara para seniman mengedukasi masyarakat agar menghargai karya seni. Lukisan, menurutnya, tidak sesederhana sapuan warna di kanvas. Ada proses, waktu, dan perasaan yang menyertainya.
Melihat antusiasme pengunjung, para perupa berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi daya tarik wisata baru di Lotim. Mereka pun mendorong pengelola destinasi menyiapkan galeri seni permanen untuk menampung dan memamerkan karya pelukis lokal.
“Kalau ada galeri, pengunjung bisa beli lukisan. Ini bisa jadi promosi wisata juga,” katanya.
Namun, di balik semangat itu, para seniman mengeluh minimnya perhatian pemerintah. Dukungan yang diharapkan bukan dalam bentuk prosedur panjang atau proposal yang rumit, melainkan ruang dan kesempatan untuk berkarya.
“Support-nya jangan terlalu birokratis. Kami biasanya cuma punya waktu dua minggu buat persiapan,” ucap Zulfiandi.
Ia juga mengusulkan agar karya pelukis Lotim dipajang di kantor-kantor dinas dan lobi Kantor Bupati. Menurutnya, cara sederhana itu bisa sekaligus menjadi promosi seni lokal.
“Kalau ada pejabat luar datang dan lihat lukisan kami, siapa tahu mereka tertarik dan pesan,” tutupnya.
Editor : Siti Aeny Maryam