Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

1.863 Warga Lombok Timur Positif TBC

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 11 November 2025 | 20:05 WIB
Lalu Aries Fahrozi
Lalu Aries Fahrozi

LombokPost - Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Timur (Lotim) terus berupaya menekan penyebaran Tuberkulosis (TBC). Hingga Oktober 2025, sebanyak 1.863 warga terdeteksi positif dari target 3.903 kasus yang harus ditemukan tahun ini.

“Untuk target temuan kasus tahun ini sebanyak 3.903 di 2025 ini. Sedangkan capaian kita atau kasus yang ditemukan sebanyak 1.863 orang di Lotim,” terang PLT Kepala Dinas Kesehatan Lotim Lalu Aries Fahrozi, Senin (10/11).

TBC masih menjadi masalah nasional dan menempati urutan kedua penyakit terbanyak ditemukan. Karena itu, TBC masuk dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan dari 12 SPM yang ada.

Untuk target penemuan terduga TBC, Dikes Lotim menargetkan 18.968 kasus. Hingga Oktober, baru ditemukan 14.350 kasus atau sekitar 75 persen dari target.

“Terduga ini beda dengan yang terkena. Kalau terduga siapa saja bisa dinyatakan terduga TBC. Siapa pun yang mengalami batuk selama dua minggu, kemudian ada penurunan berat badan, itu kita anggap sebagai terduga TBC. Sehingga memang harus kita lakukan pemeriksaan,” jelasnya.

Aries mendorong seluruh Puskesmas lebih aktif menemukan kasus TBC dengan pemeriksaan intensif agar penyebaran bisa dideteksi lebih dini.

Upaya yang dilakukan Dikes antara lain investigasi kontak serumah atau kontak erat dengan penderita TBC. Penularan TBC terjadi melalui droplet sehingga orang di sekitar pasien sangat berisiko tertular.

“Untuk yang terduga kontak erat dengan penderita TBC ini, kita berikan terapi yang disebut terapi pencegahan TBC (TPT),” katanya.

Namun, tantangan terbesarnya kesadaran masyarakat yang masih rendah karena merasa tidak sakit, sehingga enggan menjalani terapi. Padahal kontak erat dengan penderita sangat berisiko tertular.

Dikes juga menggencarkan sosialisasi tiga penyakit prioritas, yakni AIDS, TBC, dan Malaria (ATM). Sosialisasi dan skrining dilakukan di seluruh desa.

“Kita akan lakukan pemeriksaan terhadap masyarakat yang ada indikasi TBC, seperti mengalami batuk lebih dari dua minggu, berat badan menurun, dan lainnya,” katanya.

Aries menegaskan, pengobatan TBC gratis karena sudah menjadi program nasional. Terlebih, Lotim berstatus Universal Health Coverage (UHC) sehingga seluruh penderita TBC diharapkan tercover BPJS Kesehatan. Namun, meski tidak tercover, pasien tetap wajib mendapatkan obat gratis.

Untuk pemeriksaan, pihaknya masih terkendala alat Tes Cepat Molekuler (TCM). Dari puluhan Puskesmas dan rumah sakit di Lotim, hanya delapan yang memiliki alat TCM, dua di rumah sakit dan enam di Puskesmas.

“Jadi TCM yang enam itu kita bagi sesuai zona supaya teman yang akan memeriksakan pasien terduga TBC ini tidak terlalu jauh melakukan tes,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIB Selong Ahmad Sihabudin menambahkan, sebanyak 431 warga binaan mengikuti pemeriksaan TBC.

Pemeriksaan ini merupakan bentuk dukungan terhadap prioritas kesehatan nasional dalam Asta Cita Presiden, khususnya percepatan penurunan kasus TBC melalui deteksi dini.

“Sebelumnya sempat ditemukan satu kasus TBC di bulan sebelumnya di dalam Lapas. Tapi yang bersangkutan telah menjalani pengobatan dan dinyatakan sembuh. Yang bersangkutan juga sudah menjalani isolasi,” ungkapnya.

Ia menyebut hingga saat ini tidak ditemukan gejala TBC baru di lingkungan Lapas Selong, berkat pemeriksaan rutin yang dilakukan internal Lapas.

Deteksi dini dilakukan melalui rontgen dada setiap warga binaan. Jika ditemukan bintik putih di bagian dada, akan dilakukan pemeriksaan lanjutan di laboratorium.

“Pemeriksaan ACF TBC ini merupakan komitmen Lapas Selong dalam memastikan hak kesehatan WBP terpenuhi. Kami ucapkan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat,” tutupnya.

Editor : Siti Aeny Maryam
#TBC aktif #Lotim #Keseahatan