Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tokoh Adat Sembalun Dorong Pariwisata Berkelanjutan

Supardi/Bapak Qila • Jumat, 9 Januari 2026 | 22:05 WIB
Sejumlah pengunjung sedang parkir di depan pintu masuk wisata Pusuk Sembalun untuk menikmati keindahan alam Sembalun.
Sejumlah pengunjung sedang parkir di depan pintu masuk wisata Pusuk Sembalun untuk menikmati keindahan alam Sembalun.

Lombokpost - Tokoh adat Sembalun mendorong kawasan Sembalun menjadi destinasi wisata berbasis lingkungan, adat, dan budaya yang berkelanjutan. Konsep ini bertujuan menjawab berbagai persoalan pariwisata Sembalun yang dinilai masih semrawut sekaligus menjaga kelestarian alam dan kearifan lokal.

Tokoh masyarakat sekaligus Majelis Adat Sasak Sembalun Mertawi menyampaikan, pengembangan pariwisata Sembalun harus kembali pada prinsip dasar yang pernah menjadi acuan Pemkab Lotim.

“Dulu saat saya masih di Dinas Pariwisata, kami punya jargon pengembangan pariwisata harus berpedoman pada tiga pilar. Yakni, lingkungan harus tetap lestari. Tidak boleh melakukan perusakan terhadap lingkungan dan berbudaya," terang Mertawi, Kamis (8/1).

Pariwisata menurutnya, harus menjaga budaya lokal dan tidak boleh menjadi ancaman bagi nilai-nilai masyarakat setempat. Pariwisata harus memperkuat budaya, bukan merusaknya.

Budaya Sembalun harus tetap kokoh sebagai identitas. Selain itu, pariwisata juga harus selaras dengan nilai-nilai agama agar aktivitasnya tidak bertentangan dengan kehidupan keagamaan masyarakat.

“Antara pariwisata dan agama harus berjalan bersamaan, bukan bertentangan,” ungkapnya.

Dirinya juga merasa prihatin terhadap maraknya pembangunan di perbukitan atau lahan miring di Sembalun. Hal tersebut dinilai berpotensi besar merusak lingkungan.

Ia berharap seluruh pihak mematuhi ketentuan teknis dan aturan yang berlaku. Pembangunan di lahan miring harus memenuhi ketentuan agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan maupun masyarakat.

"Kami sangat mendukung langkah advokasi yang dilakukan masyarakat dan kebijakan pemerintah daerah yang menutup aktivitas di bukit-bukit beberapa hari lalu, tapi sayang belum ada perda atau aturan resmi,” jelasnya.

SeBaca Juga: Empat Hari Merawat Rinjani dari Sembalun dan Senaru, 50 Relawan Diterjunkan, Menyusuri Jalur Pendakian untuk Kumpulkan Sampah

Selain masalah pembangunan di lahan miring, ia menyoroti lambannya penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Lotim, khususnya di kawasan Sembalun dan Jerowaru oleh Pemkab Lotim.

Editor : Marthadi
#sembalun #budaya #Lotim #Adat #Pariwisata