Lombokpost-Sepintas itu hanya ruko bisu yang menyerupai bangunan oven tembakau, namun di balik sunyinya dinding beton di Lendang Nangka itu, ribuan walet sedang merajut liur menjadi pundi-pundi rupiah bagi Amir Mas’ud.
Berdiri kokoh di samping kediaman mewahnya, sebuah ruko dua lantai di Desa Lendang Nangka tampak sunyi. Pintu dan rolling door miliknya nyaris tidak pernah terlihat terbuka. Bangunan itu sekilas menyerupai oven tembakau dengan ventilasi minim dan lubang-lubang kecil yang menghiasi dindingnya.
Meski sengaja dikosongkan, bangunan tersebut merupakan pusat bisnis milik Amir Mas’ud. Dari gedung yang tampak mati itulah, ia mengelola budi daya sarang walet dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah dalam sekali panen.
Amir Mas’ud mengenang awal perjalanannya merintis usaha ini pada 2010 silam. Kala itu, ia harus belajar secara otodidak karena akses informasi mengenai budi daya burung walet masih sangat terbatas, bahkan di jagat maya sekalipun.
“Dulu yang usaha sarang walet ini setahu saya hanya orang-orang keturunan Arab atau China. Jadi untuk mencari informasi itu sangat sulit,” terangnya.
Pantang menyerah, ia mulai mengumpulkan kepingan informasi dari buku, majalah, hingga berbagai referensi lainnya. Amir kemudian melakukan eksperimen selama lebih dari delapan bulan untuk menemukan formula agar burung walet mau menetap dan berkembang biak di gedung yang telah ia siapkan.
Usaha ini rupanya tidak semudah yang dibayangkan karena menuntut ketekunan, keuletan, dan kesabaran ekstra. Budi daya burung penghasil liur berharga mahal ini tidak bisa dilakukan secara serampangan, meski terlihat sederhana.
“Ada dua jenis walet ini, kalau walet itu harus kita panggil pakai kaset baru dia mau datang. Tapi kalau jenis Seriti dia datang sendiri. Ini yang agak sulit agar walet ini bisa diam dan membuat sarang itu,” terang Amir Mas’ud.
Sejak gempa bumi melanda pada 2018 lalu, populasi burung walet di Lombok Timur mulai menyusut. Banyak koloni burung yang bermigrasi ke wilayah timur seperti Sumbawa, Bima, hingga ke Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain faktor alam, kegagalan usaha sarang walet sering kali dipicu hama tikus, gangguan burung hantu, kondisi gedung yang kurang lembap, hingga teknik panen yang keliru. Hal-hal tersebut membuat burung walet enggan menetap dan memilih pergi mencari sarang baru.
“Kadang orang-orang saking butuh uang, waletnya masih bertelur mereka ambil. Sehingga itu yang membuat mereka pergi dan tidak mau balik lagi,” jelasnya.
Dari segi ekonomi, harga sarang walet saat ini sedang mengalami penurunan. Satu kilogram sarang walet kini dihargai Rp 4 juta hingga Rp 6 juta. Angka ini merosot jauh dibandingkan periode 2016-2017 yang sempat menembus Rp 17 juta sampai Rp 18 juta per kilogram.
Biasanya, panen dilakukan tiga kali dalam setahun, yakni pada Oktober, Mei, dan Juni. Amir mengibaratkan usaha ini layaknya memelihara lebah, burung-burung tersebut mencari makan dan minum sendiri secara mandiri. Pemilik gedung hanya perlu menyediakan tempat yang nyaman untuk mereka beristirahat dan bertelur.
“Awal-awal usaha ini kita hanya buat tempat, pasangkan kaset untuk memanggil. Kalau mereka cocok dengan tempat itu akan tinggal kalau tidak mereka akan pergi,” katanya.
Saat ini, Amir mengelola tiga gedung pribadi yang berlokasi di Lendang Nangka dan Kecamatan Sambelia. Selain itu, ia juga menjalin kemitraan dengan pengusaha lain untuk mengelola 11 gedung walet lainnya.
Satu gedung kini rata-rata menghasilkan 6-7 kilogram sarang dalam sekali panen. Jumlah ini menurun drastis dibandingkan masa sebelum gempa, di mana satu gedung bisa memproduksi belasan kilogram sarang walet.
“Pas gempa bumi itu ada satu kandang saya yang jebol di Sambelia. Itu hasilnya sampai 11 kilogram lebih dalam sekali panen. Karena waktu itu populasi walet cukup banyak, tapi sekarang produksi turun hanya bertahan di angka 6-7 kilogram, kadang juga kurang,” tutupnya. (*/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post