Lombokpost-Penutupan wisata pendakian Gunung Rinjani sejak awal Januari lalu berdampak pada tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke agrowisata kakao Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba. Desa ini merupakan salah satu wilayah penyangga kawasan Sembalun.
Setelah melakukan pendakian, wisatawan biasanya mencari penginapan di sekitar Sembalun, seperti di wilayah Sapit, Bebidas, dan Suela. Namun, sejak jalur pendakian ditutup, kunjungan wisatawan ke desa penyangga tersebut menurun drastis.
Sepinya kunjungan wisatawan mancanegara dilaporkan terjadi sejak akhir tahun 2025 hingga pertengahan Januari 2026. Desember yang seharusnya menjadi puncak kunjungan justru tidak menunjukkan geliat aktivitas wisata.
“Pada bulan Desember itu saya hanya menerima 4 orang saja, Setelah itu tidak ada sama sekali. Kalau bulan-bulan sebelumnya setiap minggu wajib ada tamu yang berkunjung,” kata pengelola agro wisata kakao Desa Bebidas Sanusi Ardi, Kamis (22/1).
Sanusi menambahkan, musim hujan yang terjadi belakangan ini juga memengaruhi tingkat kunjungan, sekaligus berdampak pada harga dan kualitas kakao. Saat ini, harga kakao kering turun menjadi Rp 60 ribu per kilogram dari harga sebelumnya yang mencapai lebih dari Rp 100 ribu per kilogram.
“Kualitas kakao juga kurang bagus karena petani kesulitan untuk menjemur kakao mereka,” imbuh pria yang akrab disapa Ucik ini.
Pada musim kemarau, penjemuran biji kakao biasanya membutuhkan waktu 5-6 hari. Namun, saat ini proses tersebut memerlukan waktu 7-8 hari atau lebih. Hal ini mengakibatkan kualitas kakao menurun dan banyak biji yang rusak.
Penutupan pendakian dan cuaca buruk menyebabkan stok biji kakao petani sulit terserap pasar. Sebagai solusi, petani mencoba melakukan penjualan secara daring dengan sistem Cash on Delivery (COD).
“Kalau kita COD harganya lebih mahal sedikit. Tetapi kalau kita hitung ongkos kirim, kita rugi dibandingkan kalau tamu datang langsung ke tempat,” katanya.
Apabila tamu berkunjung langsung, biji kakao dijual dalam bentuk paket wisata, mulai dari berkeliling kebun, memilih dan memanen buah, hingga proses pembuatan minuman.
“Biji kalau itu akan menjadi suvenir. Kita hanya menyiapkan 100 gram untuk di bawa pulang tapi mereka bayar lebih,” tutupnya. (par/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post