Lombokpost - Dinas Pertanian Lombok Timur (Lotim) meminta petani memperketat pemantauan saluran irigasi guna mencegah kerusakan lahan akibat cuaca ekstrem.
Langkah ini mendesak karena tingkat kemantapan irigasi daerah baru mencapai 54 persen.
"Kami harap pada musim hujan ini, masyarakat bisa bergotong royong untuk membersihkan saluran irigasi agar airnya lancar," jelas Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Pertanian Lotim Darajata.
Untuk perbaikan irigasi tahun 2026, pengusulan hanya dilakukan melalui Sistem Informasi Program Usulan Irigasi (SIPURI).
Sementara itu, bantuan perbaikan irigasi dari Kementerian Pertanian tahun ini ditiadakan, karena anggarannya digeser untuk penanganan bencana di Sumatera.
Terkait usulan melalui SIPURI tahun 2025 lalu, Lotim mendapatkan sekitar 50 paket perbaikan irigasi dengan panjang bervariasi, mulai 300 meter hingga 1 kilometer (km).
Selain SIPURI, tahun lalu Lotim juga mendapatkan pembangunan irigasi melalui dana pokok pikiran (Pokir) DPRD Lotim. Namun, jika dibandingkan kebutuhan di lapangan, perbaikan tersebut masih sangat kurang.
"Karena selain kita menangani yang baru, yang lama-lama juga butuh rehabilitasi. Makanya sekarang kami koordinasi dengan PUPR untuk menangani masalah irigasi ini," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Lotim Achmad Dewanto Hadi menyampaikan, kemantapan saluran irigasi Lotim saat ini masih berada di angka 54 persen atau jauh dari harapan. Di sisi lain, Dana Alokasi Khusus (DAK) sudah tidak tersedia.
"Tetapi syukur tahun 2025 kita mendapatkan alokasi pengganti DAK sebesar Rp 12 miliar untuk perbaikan irigasi," katanya.
Tahun 2027, pola penanganan irigasi akan sama dengan penanganan jalan daerah, yakni irigasi kewenangan kabupaten akan didukung melalui APBD.
"Tahun 206 ini untuk penanganan irigasi hanya operasional dan pemeliharaan. Sambil menunggu inpres irigasi. Harapannya ada APBN yang masuk di Irigasi yang menjadi wewenang kabupaten," tutupnya.
Editor : Marthadi