Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Puluhan Warga Dusun Sungkun Bertahan di Tengah Banjir Berkepanjangan Kecamatan Jerowaru

Supardi/Bapak Qila • Senin, 9 Februari 2026 | 22:11 WIB
TERENDAM BANJIR: Seorang anak sedang mandi di depan rumahnya yang terendam banjir.
TERENDAM BANJIR: Seorang anak sedang mandi di depan rumahnya yang terendam banjir.

Lombokpost - Air menggenangi permukiman dan lahan pertanian di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, sejak beberapa pekan terakhir. Puluhan kepala keluarga terpaksa mengungsi, sementara ratusan hektare tanaman rusak dan aktivitas warga terganggu akibat banjir yang belum juga surut.

Di pintu masuk menuju destinasi wisata Pantai Kura-kura Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, hamparan air terlihat menggenangi puluhan rumah warga dan lahan pertanian. Sepintas, genangan itu menyerupai danau.

Di sudut persimpangan jalan, tiga anak laki-laki tampak asyik mandi di genangan. Mereka bolak-balik berenang tanpa rasa khawatir terhadap ancaman bahaya kesehatan. Genangan tersebut merupakan banjir yang terjadi sejak beberapa minggu lalu dan merendam puluhan rumah warga serta ratusan hektare lahan pertanian.

Kepala Dusun Sungkun Wirkas Suandi mengatakan, banjir terjadi sejak 23 Januari dan hingga kini air belum juga surut. Bahkan ketinggian air terus bertambah dan merendam rumah serta lahan pertanian warga.

“Banjir ini dikarenakan intensitas hujan yang tinggi sehingga bendungan tidak bisa menampung air dan air meluap ke rumah warga,” beber Wirkas, Minggu (8/2).

Sebanyak 56 Kepala Keluarga (KK) atau 197 jiwa terdampak banjir. Warga yang rumahnya terendam terpaksa mengungsi di dua lokasi. Kaum laki-laki menempati tenda yang disiapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Polri. Sementara perempuan mengungsi di rumah warga yang berukuran lebih besar.

Banjir juga membuat banyak perabot rumah tangga tidak dapat diselamatkan. Aktivitas warga pun terganggu. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, warga memasak bersama di lokasi pengungsian.

Selain itu, sumber air bersih warga turut terdampak karena sumur kemasukan air banjir. Untuk kebutuhan minum dan memasak, warga terpaksa membeli air galon atau air kemasan gelas. Sementara untuk mandi dan mencuci, warga memanfaatkan air genangan di lahan pertanian yang dinilai masih bersih dan layak digunakan.

“Kalau mandi dan mencuci kita manfaatkan air ini (genangan, Red). Tapi kalau minum, kita beli air gelasan atau galon,” katanya.

Wirkas menyebut, pemerintah telah datang memberikan bantuan makanan. Namun, warga lebih membutuhkan solusi nyata agar genangan segera surut, sehingga mereka dapat kembali ke rumah masing-masing.

Satu-satunya cara mengatasi banjir, kata dia, dengan membuat saluran drainase sepanjang 400 meter menuju pantai. Warga berharap Pemkab Lotim segera mengambil langkah cepat untuk menangani persoalan tersebut.

“Kami khawatir jika ini dibiarkan lama-lama warga akan terkena penyakit. Terutama anak-anak akan sangat rentan terkena penyakit,” ungkapnya.

Selain merendam permukiman, banjir juga menggenangi ratusan hektare lahan pertanian dan merusak tanaman jagung milik warga. Di Dusun Sungkun saja, lahan jagung yang terendam mencapai sekitar 48 hektare.

Kondisi ini membuat petani mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah. Banjir datang sebelum masa panen, saat jagung baru mulai berbuah. Selain jagung, tanaman lain seperti cabai dan tomat juga terdampak.

 

 

 

 

 

Editor : Marthadi
#Bendungan #Banjir #Lotim #luapan air #Jerowaru