LombokPost-Pertumbuhan ekonomi Lombok Timur (Lotim) tahun ini diklaim mengalami peningkatan signifikan, bahakan pertumbuhan ekonomi Lotim tahun ini menempatkan Lotim di peringkat kedua tertinggi di Provinsi NTB setelah Kota Mataram.
“Pertumbuhan ekonomi kita sekarang adalah 8,92 persen. Kita hanya kalah dari kota Mataram. Wajar kita kalah dengan Mataram, di sana bertebaran Mall, jumlah kecamatannya sedikit, orang kaya banyak, dan perguruan tinggi juga banyak jadi tidak mungkin kita bisa kejar dia (Mataram, Red),” terang Bupati Lotim Haerul Warisin, Senin (30/3).
Ia mengaku senang dengan capaian ini. Pada tahun-tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Lotim selalu berada di peringkat ke-7 dari 10 kabupaten/kota di NTB.
Ia melihat peningkatan pertumbuhan ekonomi ini salah satunya disebabkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang banyak menyerap tenaga kerja lokal dengan gaji setara bahkan melebihi UMR.
“Bahkan banyak orang-orang yang bekerja di lingkup pemerintah daerah, berhenti bekerja dan memilih masuk ke MBG,” katanya.
Selain itu, faktor lain yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Lotim adalah sektor pertanian. Tahun ini kebutuhan pupuk petani tercukupi dan harganya murah.
Kemudian hasil panen petani diserap dengan harga pembelian pemerintah (HPP). Bahkan kata dia, tidak boleh ada tengkulak yang membeli gabah di bawah HPP, sehingga berdampak pada kesejahteraan petani.
“Begitu mereka panen harga dilindungi dengan adanya HPP, tidak boleh ada tengkulak-tengkulak yang membeli pada saat panen raya dengan harga murah,” jelasnya.
Di samping itu, kata dia saat ini produksi tanaman lain juga sangat bagus. Komoditas lain seperti sayur, telur, bawang, dan ayam juga laku keras, sehingga pertumbuhan ekonomi Lotim cukup signifikan.
Melihat pertumbuhan ekonomi ini, ia memastikan angka kemiskinan Lotim akan kembali turun setelah turun 0,8 persen pada 2024. Untuk itu dalam waktu dekat ia akan memanggil BPS dan Dinas Sosial untuk memadukan data kemiskinan, terutama yang terdaftar di Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Sudah pasti akan turun, kita kan lakukan perbaikan data. Kemarin banyak juga yang protes karena banyak yang berubah desil. Ini mungkin karena dianggap sudah bisa bekerja jadi status mereka berubah,” katanya.
Sebelumnya Kepala Dinas Sosial Lotim Siti Aminah menyebut jumlah penduduk Lotim yang masuk kategori miskin ekstrem di Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) tercatat 85 ribu kepala keluarga (KK).
“Selama ini kami tetap melakukan koordinasi dengan desa untuk update data ini, karena desa yang lebih dekat dan lebih tahu kondisi masyarakatnya. Kami harap desa lebih aktif melaporkan warganya,” tutupnya. (par/r7)
Editor : Prihadi Zoldic