Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Inovasi BUMDes Rumbuk Timur Dalam Kembangkan Lahan

Supardi/Bapak Qila • Senin, 20 April 2026 | 11:55 WIB
WISATA PERTANIAN: Sejumlah pengunjung saat berkunjung ke agrowisata pertanian Desa Rumbuk Timur, belum lama ini. (MARJAN UNTUK LOMBOK TIMUR)
WISATA PERTANIAN: Sejumlah pengunjung saat berkunjung ke agrowisata pertanian Desa Rumbuk Timur, belum lama ini. (MARJAN UNTUK LOMBOK TIMUR)

LombokPost - Hamparan sayur mayur menyambut di setiap sudut Desa Rumbuk Timur, Kecamatan Sakra, Lombok Timur (Lotim).

Dari lahan pertanian itu, warga tidak hanya memanen hasil bumi, tetapi juga mulai menumbuhkan harapan baru melalui agrowisata berbasis desa.

Selain Sembalun, Desa Rumbuk Timur, Kecamatan Sakra, Lombok Timur (Lotim), dikenal sebagai salah satu sentra sayur mayur.

Baca Juga: Genjot PADes, Pj Kades Wahyu Aji Pratama Bakal Rombak Total BUMDes Jenggala

Sebagian besar warganya menggantungkan hidup sebagai petani hortikultura.

Potensi itu mendorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat membuat terobosan.

Tidak sekadar menjalankan usaha sembako seperti umumnya, pengelola justru menghadirkan kampung agrowisata, destinasi wisata pertanian yang juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat.

Baca Juga: NTB Borong Penghargaan Nasional! Dari Kelurahan Terbaik I Hingga BUMDes Inspiratif, Wagub Umi Dinda Terima Upakarya Wanua Nugraha

Ketua BUMDes Rumbuk Timur Marjan mengatakan, kampung ini mulai dibentuk pada akhir 2025. Gagasan ini lahir dari kekuatan desa sebagai penghasil sayuran, khususnya hortikultura.

“Agrowisata ini kami canangkan sebagai wisata pertanian di pusat kota. Karena jarak kita dengan Kota Selong tidak terlalu jauh,” terang Marjan saat ditemui Lombok Post di lokasi agrowisata.

BUMDes menyewa lahan seluas 1,8 hektare untuk mengembangkan kawasan tersebut. Lokasinya tersebar di beberapa titik, namun area utama agrowisata sayuran berada di pintu masuk Dusun Letok.

Baca Juga: Dana BUMDes Kebon Ayu Rp 150 Juta Disoal, Aparat Desa Diduga Ikut Nikmati Pinjaman

Di lahan itu, suasana persawahan disulap menjadi ruang wisata. Jalan setapak dari bambu membelah kebun, diapit beragam tanaman sayur yang tumbuh rapi. Pengunjung dapat memetik langsung hasil panen, sekaligus mengabadikan momen di spot foto yang disediakan.

“Iya mirip seperti agrowisata buah. Makanya kami buat di tengah-tengah sawah ada jalan dari bambu, kemudian di sampingnya ada sayur-sayuran. Setiap pengunjung nanti bisa petik sendiri sambil mengabadikan momen dan saat keluar mereka bayar,” jelas Marjan.

Beragam jenis sayur ditanam di lokasi ini, mulai dari cabai, tomat, kangkung, brokoli, buncis, kol, kacang panjang, kedelai, sawi, hingga tanaman lainnya. Harga yang ditawarkan menyesuaikan pasar, namun dengan kualitas yang lebih segar.

Sejauh ini, pengunjung masih didominasi warga sekitar. Meski begitu, wisatawan mancanegara juga mulai berdatangan melalui jaringan pelaku wisata.

“Alhamdulillah beberapa tamu mancanegara juga sudah banyak yang berkunjung, karena kita ada kerja sama dengan teman-teman pelaku wisata,” katanya.

Tak hanya sebagai destinasi, kawasan ini juga difungsikan sebagai pusat edukasi pertanian. Petani diajak memahami teknik budi daya yang lebih baik agar hasil produksi meningkat dan berdampak pada kesejahteraan.

Meski demikian, pengelolaan agrowisata belum sepenuhnya optimal. Kunjungan wisatawan masih fluktuatif, tidak seramai saat awal dibuka.

“Ada saja sih yang datang satu, dua orang. Tamu asing pun ada saja, tapi tidak seramai saat awal-awal dibuat dulu,” ungkapnya.

Tantangan lain datang dari sisi perawatan. Dalam satu lahan, puluhan jenis tanaman membutuhkan perlakuan berbeda, mulai dari pupuk hingga teknik perawatan.

Untuk mengatasi hal tersebut, pengelola tengah menyiapkan sistem mekanisasi berupa mesin tetes otomatis. Teknologi ini diharapkan membuat perawatan lebih efisien.

“Mesinnya kita sudah punya, tinggal sumur bornya. InsyaAllah kalau sudah jadi sumur bornya, maka wisata ini akan maju,” ujarnya.

Di luar kawasan agrowisata, BUMDes juga tetap mengembangkan lahan produksi di titik lain. Hasil panen dipasarkan ke pasar, pengepul, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). (SUPARDI, Lombok Timur/r7)

Editor : Redaksi
#BUMDes #turis #Lahan #wisata #agrowisata