LombokPost-Kelompok Petani Muda Desa Ketangga, Kecamatan Suela, mulai menerapkan sistem irigasi tetes untuk mengelola lahan kering menjadi lebih produktif.
Lahan yang sebelumnya hanya ditanami jagung dan tembakau saat musim hujan, kini dapat ditanami cabai dan tomat pada musim kemarau.
“Ini sebagai langkah menjawab tantangan ketersediaan air untuk lahan pertanian di musim kemarau,” terang salah seorang anggota Kelompok Tani Muda Desa Ketangga Rozi, Jumat (8/5).
Rozi mengatakan, sistem irigasi tetes dinilai lebih efektif dan efisien karena air langsung dialirkan ke akar tanaman melalui jaringan pipa kecil sehingga mengurangi pemborosan air.
Baca Juga: Paradoks Pangan: Benarkah Sektor Pertanian Jadi Beban Lingkungan? Simak Ulasannya!
Sebelumnya lahan tersebut hanya dimanfaatkan untuk menanam jagung dan tembakau setelah musim hujan. Namun, saat ini lahan sudah dapat ditanami berbagai jenis sayuran hortikultura saat musim kemarau.
“Ide ini muncul setelah kami mengikuti pelatihan pertanian lahan kering, dan konsep ini kami pelajari melalui media sosial,” jelasnya.
Ia mengatakan, musim kemarau di wilayah Suela kerap berlangsung cukup panjang hingga menyebabkan debit air sumur warga menurun. Kondisi itu membuat petani kesulitan menanam saat musim kering.
Baca Juga: Satu Tahun, Pertanian NTB Bangkit dan Membuka Peluang Baru, Padi Melonjak, Jagung Tetap Tangguh
Melalui sistem irigasi tetes, petani disebut tetap dapat menanam cabai dan tomat tanpa harus menggunakan banyak air maupun saluran irigasi.
Sistem yang digunakan memanfaatkan pipa utama yang disambungkan ke tandon air dengan posisi lebih tinggi. Dari pipa utama, air dialirkan melalui selang kecil berlubang yang dipasang sejajar dengan tanaman sehingga air menetes perlahan dan menjaga kelembapan tanah.
“Konsep ini sangat efektif membuat lahan kering menjadi lebih berguna meskipun di musim kemarau,” tutupnya.
Baca Juga: Gubernur NTB Tegaskan Teknologi Jadi Kunci Pertanian Masa Depan
Sementara Kepala Dusun Monek Desa Suela Kecamatan Suela Rasid mengatakan, lahan pertanian di wilayahnya belum memiliki irigasi teknis dari bendungan dan selama ini hanya mengandalkan tadah hujan.
“Inovasi tepat guna ini cukup membantu petani sehingga dapat menjaga ketahanan pangan desa saat musim kering,” jelasnya.
Menurutnya, inovasi irigasi tetes akan disosialisasikan kepada petani lain, khususnya yang memiliki lahan kering agar lebih produktif saat musim kemarau. Selain itu, petani juga akan didorong menggunakan pupuk organik.
Baca Juga: Menteri Pertanian Launching Pengembangan Bawang Putih di Sembalun
Ia berharap pemerintah dapat memberikan pendampingan lebih lanjut terkait penerapan sistem irigasi tetes agar pemanfaatannya lebih maksimal.
Editor : Kimda Farida