Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harapan Baru dari Sulur-sulur Vanili Keni Anjani, Harga Pasar Meroket, Bangkitkan Semangat Petani usai Terpuruk karena Anjloknya Nilai Jual

Supardi • Selasa, 12 Mei 2026 | 07:25 WIB

 

HARGA TINGGI: Tanaman vanili tumbuh subur di Garden Vanili di Dusun Duren, Desa Lenek Duren, Lombok Timur
HARGA TINGGI: Tanaman vanili tumbuh subur di Garden Vanili di Dusun Duren, Desa Lenek Duren, Lombok Timur

LombokPost-Sulur-sulur vanili menjuntai rapat di antara rindangnya pepohonan di kaki perbukitan Lenek Duren. Dari kebun sederhana di tengah hutan itu, harapan para petani vanili perlahan kembali tumbuh setelah sempat layu akibat harga yang anjlok dan cuaca yang tak menentu. 

Ratusan hingga ribuan tanaman vanili tumbuh subur di sepanjang jalan menuju rumah sederhana di tengah hutan. Sulur-sulur vanili melilit batang pohon kakao, alpukat, durian, hingga pohon penyangga yang sengaja ditanam sebagai tempat rambatan. Suasana kebun tampak hijau dan lembap. Sebagian tanaman mulai berbunga. Sebagian lainnya sudah dipanen.

Hamparan vanili itu dikembangkan di lahan perkebunan milik Keni Anjani, warga Dusun Duren, Desa Lenek Duren, Kecamatan Lenek, Lombok Timur.

Baca Juga: Diduga Edarkan Narkoba, Seorang Perempuan Asal Lenek Ditangkap Polisi

Pemilik Garden Vanili Keni bercerita, tanaman vanili sebenarnya sudah lama ada di wilayah itu. Namun dulu belum banyak warga yang tertarik mengembangkannya. Pengetahuan tentang cara perawatan vanili juga masih minim. 

"Bahkan kalau ada yang minta kita kasih ambil sendiri berapa pun yang diminta," terang perempuan yang akrab disapa Inaq Rony itu kepada Lombok Post, Minggu (10/5).

Empat tahun terakhir, ia mulai serius menata kembali kebun vanili miliknya. Berawal dari melihat panduan di YouTube dan meningkatnya permintaan pasar, tanaman vanili yang dulu dibiarkan tumbuh alami kini mulai dirawat lebih intensif.

Baca Juga: Ekspor Vanili Organik NTB Tetap Stabil

Menurut dia, kondisi alam Lenek Duren sangat mendukung pengembangan vanili. Tanah yang subur dan cuaca yang lembap membuat pertumbuhan tanaman cukup baik.

"Di sini saja luas lahan yang kami tanami vanili sekitar 50 are. Tapi ada juga di tempat berbeda, jumlah pohon vanili yang kami tanam sekitar seribu lebih," terangnya.

Meski demikian, membudi dayakan vanili tidak selalu berjalan mulus. Cuaca di Lenek Duren disebut tidak menentu. Saat wilayah selatan mengalami kemarau, hujan justru masih turun di daerah itu. Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri bagi para pembudi daya vanili.

Baca Juga: Cengkeh, Vanili, dan Kacang Mete KLU Diburu Banyak Pembeli Luar Negeri

Kelembapan tinggi membuat tanaman rentan terserang penyakit busuk akar. Hingga kini para pembudi daya masih kesulitan menemukan cara mengatasi penyakit itu. Terlebih tanaman vanili tidak menggunakan pupuk kimia maupun pestisida.

"Kalau sudah ada terkena, kita cabut biar tidak menular. Karena tidak ada obatnya kalau sudah kena busuk akar. Kita pasrah saja. Pemupukan kita hanya pakai pupuk kandang," katanya.

Cobaan lain datang saat harga vanili sempat anjlok tahun lalu. Banyak petani memilih merusak tanaman vanili mereka karena hasil yang didapat tidak sebanding dengan perawatan. Hanya sebagian kecil yang tetap bertahan.

Baca Juga: Melihat Kebun Bibit Vanili Satu-satunya di Lombok Utara, Lahir dari Kegelisahan Sulitnya Masyarakat Dapat Bibit Berkualitas

Saat itu harga vanili basah hanya dijual sekitar Rp 35 ribu per kilogram. Sementara vanili kering paling mahal dihargai Rp 350 ribu per kilogram. Tahun ini kondisinya mulai berubah. Harga vanili kembali merangkak naik. 

"Sekarang sudah ada penawaran Rp 1 juta untuk yang kering. Permintaan vanili saat ini juga cukup tinggi bahkan setiap hari ada saja yang datang mau beli," jelasnya.

Kenaikan harga itu kembali membangkitkan semangat pembudi daya vanili di Lenek Duren. Di kebun miliknya, Keni tidak hanya mengembangkan vanili untuk dijual. Vanili Garden juga dijadikan tempat edukasi bagi masyarakat yang ingin belajar membudi dayakan vanili dan kakao.

Baca Juga: Asosiasi Petani Vanili Organik Lombok Dikukuhkan

Untuk pemasaran, hasil panen sebagian besar dijual kepada pengepul dan tamu asing yang datang langsung ke kebun. Dalam sekali panen, ia bisa menghasilkan 50-60 kilogram vanili mentah. Jumlah itu menurun dibanding tahun lalu yang bisa mencapai 1-2 kuintal sekali panen. Faktor cuaca menjadi penyebab utama menurunnya produksi.

Saat ini jumlah pembudi daya vanili aktif di wilayah itu diperkirakan tinggal 15-16 orang. Keni berharap ada perhatian dan pembinaan dari pemerintah agar semakin banyak masyarakat kembali tertarik menanam vanili. 

 

 

 

Editor : Akbar Sirinawa
#harga #Cuaca Buruk #Vanili #ekspor #Lotim