LombokPost-Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur (Lotim) mulai melakukan penjaringan calon siswa baru tahun ajaran 2026/2027. Calon siswa akan diambil dari keluarga miskin ekstrem atau berada di desil 1 dan 2.
"Untuk penerimaan siswa baru, sekolah rakyat itu tidak membuka pendaftaran seperti sekolah reguler, tapi melalui penjangkauan. Ada tim yang turun ke rumah-rumah keluarga,” terang Kepala SRMA 38 Lotim Mohammad Afandi saat ditemui Lombok Post di ruang kerjanya, Rabu (20/5).
Kata dia, tim yang akan turun mencari siswa SRMA terdiri dari Kementerian Sosial, pendamping PKH, Dinas Sosial Lotim, dan Badan Pusat Statistik (BPS). Langkah ini dilakukan guna memadukan data di lapangan. Ini untuk memastikan anak yang masuk SRMA betul-betul dari keluarga miskin ekstrem.
Baca Juga: DPRD Kawal Pembangunan Sekolah Rakyat, Program Prioritas Presiden Prabowo
Setelah itu, siswa dan orang tua yang sudah didaftar akan melewati tes wawancara. Tujuannya melihat kesiapan dan kesanggupan mengikuti program pendidikan di SRMA. Langkah ini juga dilakukan untuk memastikan dan mengantisipasi siswa tidak setengah hati sekolah di SRMA.
"Jadi keduanya harus betul-betul siap," jelasnya.
Diakui, siswa yang masuk pada tahun ajaran 2025/2026 lalu tercatat sebanyak 10 orang mengundurkan diri atau kabur karena tidak sanggup tinggal di asrama. Namun, setiap ada siswa yang mengundurkan diri langsung dicarikan pengganti.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Lombok Tengah Ditargetkan Beroperasi 2027
Jumlah kuota penerimaan siswa tahun ajaran 2026/2027 ini hanya 90 siswa dengan tiga rombongan belajar (rombel). Jumlah ini menurun dari tahun sebelumnya yang mencapai 125 orang dengan lima rombel.
Kata dia, pada Oktober mendatang Sekolah Rakyat di Lotim akan dibangun secara terpusat mulai dari SD, SMP, dan SMA di Kecamatan Jerowaru. Termasuk di dalamnya juga akan dibangun asrama guru.
Sejauh ini SRMA 38 Lotim telah bekerja sama dengan sejumlah SMK dan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Lotim untuk peningkatan vokasi. Sebab, masing-masing siswa wajib memilih satu soft skill yang harus dikembangkan.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Jadi Senjata Baru Hapus Kemiskinan Ekstrem
"Di SMKN 1 Sakra kita kerja sama dengan jurusan APHP, pertanian, peternakan sama tata kecantikan kulit dan rambut. SMK 1 Sikur kita kerja sama dengan jurusan membatik, melukis, dan menjahit. SMK 3 Selong itu untuk teknik otomotif. Kalau BPVP bahasa Jepang dan barista," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Lotim Siti Aminah menjelaskan, untuk penjangkauan siswa Sekolah Rakyat, pihaknya hanya memiliki wewenang pada Sekolah Rakyat Sekolah Dasar (SRSD). Sementara untuk jenjang SRMA seluruhnya menjadi tanggung jawab Pemprov NTB.
"Kita hanya urus yang SD saja, kalau untuk SRMA-nya itu tugasnya provinsi," ujarnya.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Jadi Senjata Baru Hapus Kemiskinan Ekstrem
Untuk jenjang SD, kuota yang tersedia sebanyak 60 siswa. Setiap calon siswa akan dilakukan verifikasi lapangan. Langkah ini dilakukan agar bantuan pendidikan benar-benar diterima yang membutuhkan. (par/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post