LombokPost-Di Sembalun, bukit-bukit bukan hanya menjadi ruang bagi pendaki.
Di tempat yang sama, tradisi lama masyarakat hidup bersama ratusan sapi yang dibiarkan merumput bebas dari generasi ke generasi.
Di hamparan savana yang luas, ratusan sapi berlari di antara tenda para pendaki.
Sesekali kawanan sapi liar itu bergerak ke arah hutan dan bukit-bukit, tanpa mengganggu tenda-tenda yang berbaris di tempat makan mereka.
Savana Dandaun di Sembalun menjadi salah satu lokasi sapi-sapi itu dilepasliarkan.
Di tengah aktivitas para pendaki, kawanan sapi terlihat berkumpul di savana. Mereka mencari makanan, bahkan sisa makanan dari pendaki.
Baca Juga: Kopi Arabika Sembalun Dijaga Ketat, Kemenkum NTB Turun Langsung Awasi Reputasi Produk IG
Sapi-sapi itu sengaja dilepasliarkan oleh pemiliknya di bukit-bukit Sembalun. Bagi masyarakat setempat, cara beternak seperti ini bukan hal baru.
Salah seorang peternak Rushaedi bercerita, peternakan dengan metode umbaran itu sudah berlangsung turun-temurun.
Tradisi ini telah berjalan sejak puluhan tahun lalu.
Sejak berumur 15 tahun, ia sudah ikut orang tuanya menggembala sapi di bukit-bukit Sembalun. Aktivitas itu masih ia jalani hingga saat ini.
"Kalau rasa khawatir untuk hilang selalu ada. Tapi beternak seperti ini sudah menjadi tradisi di Sembalun sejak nenek moyang kami," jelas pria yang lebih akrab dipanggil Amaq Datu ini kepada Lombok Post.
Baca Juga: Pemkab Lombok Timur Menata Ulang Pariwisata Sembalun
Puluhan tahun silam, masyarakat Sembalun tidak hanya melepasliarkan sapi.
Kuda dan kambing juga dilepasliarkan di bukit-bukit. Namun, seiring berjalannya waktu, kini hanya sapi yang tersisa.
Dulu, para peternak di Sembalun mengadakan roah atau pesta setiap setahun sekali.
Kegiatan itu dirangkai dengan zikir dan doa yang dipimpin tokoh adat setempat di atas bukit. Roah menjadi bentuk syukur atas nikmat yang diberikan sekaligus permohonan perlindungan kepada Tuhan.
"Sekarang sudah tidak ada lagi tradisi itu. Sapi hanya dilepas begitu saja di (beberapa) bukit-bukit," jelasnya.
Baca Juga: Cerita Si Kober, Penjual Cilok "Barbar"yang Viral di Pusuk Sembalun
Meski hidup bebas di bukit, sapi-sapi itu tetap dijenguk pemiliknya. Biasanya sekali seminggu, bahkan bisa lebih, tergantung kesibukan peternak masing-masing.
Setiap kali naik ke bukit, pemilik sapi hanya membawa garam.
Garam itu digunakan sebagai perasa makanan yang dicampurkan dengan minuman sapi.
Dari ratusan sapi yang dilepasliarkan di atas bukit, tidak semuanya milik Rushaedi.
Ada puluhan peternak yang memiliki sapi di lokasi itu. Rushaedi sendiri hanya memiliki sekitar 20 ekor.
Baca Juga: Tanah Ulayat Sembalun-Sambelia Segera Diproses
Meski hidup bersama di satu bukit, para peternak tidak khawatir sapinya tertukar.
Setiap sapi memiliki penanda khusus pada bagian telinga.
"Ada penandanya. Kita berikan sedikit penanda di bagian telinganya. Misalnya kita kasih satu lubang atau goresan di telinga, peternak yang lain buat dua lubang. Modelnya macam-macam jadi tidak bisa tertukar," ungkapnya.
Keunikan lain juga terlihat saat sapi-sapi itu dipanggil.
Sapi bisa mengenali suara pemilik masing-masing.
Bahkan, sapi-sapi itu bisa mencium bau pemiliknya. Karena itu, meskipun dipanggil pada waktu bersamaan, sapi akan mendatangi pemilik masing-masing.
Sapi yang dilepasliarkan dinilai lebih sehat dan tahan terhadap penyakit dibanding sapi yang diternak di kandang.
Saat virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merebak di Lotim beberapa waktu lalu, hampir tidak ada sapi umbaran yang terkena penyakit.
"Kalau yang di kandang banyak terserang PMK. Tapi yang di lepas tidak ada yang terkena penyakit. Dan katanya orang-orang daging sapi yang dilepas ini lebih enak dari yang di kandang," jelasnya.
Kendati dinilai lebih tahan penyakit, vaksinasi rutin tetap dilakukan oleh dinas terkait.
Vaksinasi itu diberikan untuk menguatkan kekebalan tubuh sapi terhadap penyakit.
Baca Juga: Bisnis Sewa Skuter Listrik di Sembalun Tawarkan Keuntungan Melimpah
Untuk populasi, sapi-sapi itu tidak menggunakan inseminasi buatan (IB) atau kawin buatan.
Cara itu dinilai sangat berisiko. Sementara itu, sapi yang menggunakan IB hanya sapi yang dikandangkan atau jenis eksotik.
"Kawin alami saja kalau yang liar. Makanya kalau sudah musim beranak kita akan rutin naik ke bukit untuk melihat kondisinya. Kita takut anak-anaknya itu diserang anjing liar," jelasnya.
Beternak dengan cara melepasliarkan sapi di bukit juga memiliki risiko. Sapi bisa terjatuh dari bukit saat sedang makan. Kondisi itu bisa menyebabkan sapi patah, bahkan sampai meninggal. (*/r7)
Editor : Kimda Farida