LombokPost-Bupati Lombok Timur (Lotim) Haerul Warisin menekankan petugas Sensus Ekonomi 2026 di Lotim harus teliti, jeli, dan cermat.
Data yang dihasilkan harus akurat dan valid karena akan menjadi acuan pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat dalam membuat program dan menentukan arah kebijakan pembangunan.
“Kegiatan pengambilan data bukan sekadar mencatat, tapi lebih dari itu,” terang Bupati Lotim Haerul Warisin saat membuka pelatihan petugas Sensus Ekonomi 2026, Jumat (29/5).
Ditegaskan, data yang valid akan memudahkan pemerintah dalam membuat program.
Sebaliknya, kesalahan data akan menyulitkan pemerintah dalam menyusun program dan memutuskan kebijakan pembangunan.
Petugas sensus dinilai menjadi ujung tombak bagi pemerintah untuk membuat program pembangunan ke depan melalui data yang disajikan. Misalnya jumlah UMKM, kondisi ekonomi, dan pertumbuhan ekonomi harus didata dengan teliti.
“Tidak boleh hanya dengan mendengar cerita, tapi petugas harus turun langsung ke masyarakat,” jelasnya.
Ia menyebutkan, hal yang biasa terjadi di masyarakat ketika ada petugas yang mendata yakni masyarakat menganggap akan diberikan bantuan. Sehingga, banyak masyarakat yang tidak mau jujur menyampaikan kondisi riil mereka.
Baca Juga: BPS NTB Warning TPID Soal Inflasi Kota Bima
Menyikapi hal itu, ia meminta para petugas dapat melihat dengan jeli kondisi masyarakat saat mendata. Jangan hanya data diambil begitu saja. Data harus disempurnakan.
“Jangan karena keluarga, masyarakat yang tidak punya usaha dimasukkan sebagai UMKM atau lainnya,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB Wahyudin menegaskan, pelatihan Petugas Sensus Ekonomi 2026 ini diikuti 1.336 orang.
Mereka terbagi menjadi 34 kelas dan lima gelombang. Pelatihan ini melibatkan 17 instruktur daerah dan sensus ditargetkan berakhir pada 13 Juni mendatang.
Baca Juga: Dunia Usaha Didorong Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
“Melalui pelatihan ini kami harap dapat mewujudkan SDM berkualitas, teliti dan berintegritas yang memahami SOP, termasuk metodologi dan konsep yang digunakan, sehingga menghasilkan pendata yang handal untuk sensus ekonomi 2026,” jelasnya.
Semua potensi ekonomi yang ada di NTB, khususnya di Lotim, akan disensus. Termasuk sektor pertanian, meskipun sektor pertanian memiliki sensus sendiri.
“Ini pertama kali sensus ekonomi yang melibatkan pertanian, kalau sebelumnya tidak pernah melibatkan sektor pertanian. Karena dia punya sensus sendiri,” tutupnya. (par/r7)
Editor : Kimda Farida