Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Siswa SRMA 38 Lotim Dibina ala Ponpes

Supardi • Selasa, 2 Juni 2026 | 13:09 WIB
BELAJAR: Siswa-siswi SRMA 38 Lombok Timur sedang mengikuti pembelajaran dengan semangat.
BELAJAR: Siswa-siswi SRMA 38 Lombok Timur sedang mengikuti pembelajaran dengan semangat.

LombokPost - Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur (Lotim) menginisiasi pembinaan tambahan bagi siswa di asrama. Selain mengembangkan keterampilan dan produktivitas, siswa juga mengikuti pola pembinaan keagamaan layaknya pondok pesantren.

"Bapak kepala sekolah ingin menghidupkan asrama dengan kebiasaan islami atau layaknya kehidupan di pondok," terang Waka Kesiswaan SRMA 38 Lotim Heru Hermansyah, ditemui di ruang kerjanya, Senin (1/6).

Kegiatan sejak bangun tidur hingga tidur kembali sudah terjadwal. Mulai jadwal bangun, salat, makan, mengaji, dan kegiatan lainnya. Semua siswa-siswi ditekankan untuk selalu tertib dan disiplin. Terutama melaksanakan salat wajib dan sunnah.

Baca Juga: Masa Depan Penuh Harapan dari SRMA Lombok Timur, Anak-anak Keluarga Prasejahtera Merangkai Mimpi untuk Bisa Kuliah dan Bekerja dengan Layak

Di asrama, siswa-siswi menjalankan program mengaji seperti di pondok. Para siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan mengaji. Mulai yang tidak lancar, baru mengenal hingga yang menghafal Alquran.

"Program ini sudah tiga bulan kita maksimalkan. Alhamdulillah, mulai ada peningkatan," terangnya.

Heru mengatakan, SRMA 38 Lotim menerapkan tiga kurikulum. Yakni kurikulum SMA, pondok pesantren atau keagamaan di asrama, dan program vokasi untuk pengembangan skill, bekerja sama dengan sejumlah SMK dan BPVP Lotim.

Baca Juga: Siswa Sekolah yang Digagas Presiden Prabowo, SRMA 38 Lotim Mulai Ikuti MPLS

Dengan tiga kurikulum ini, SRMA 38 Lotim berharap dapat meminimalisasi dan mencegah anak-anak yang lulus tidak kembali ke posisi miskin ekstrem atau miskin. Sekolah Rakyat ini diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan.

"Ketika mereka kembali ke orang tuanya nanti, mereka bisa merubah nasib dan bisa mengangkat derajat orang tua, sehingga tidak lagi sebagai orang miskin," katanya.

Melalui skill yang disiapkan di sekolah, para siswa diharapkan dapat memaksimalkannya dengan baik. Selain itu, Kementerian Sosial (Kemensos) juga memfasilitasi orang tua anak-anak yang sekolah di SRMA dengan memberikan bantuan.

Baca Juga: Kolaborasi Dinas Sosial NTB Dan Biro Psikologi Hayati Dalam Memberikan Psikoedukasi di SRMA 38 Lombok Timur

Bantuan terhadap orang tua siswa ini diharapkan membuat siswa tidak lagi khawatir dengan ekonomi orang tuanya di rumah. Mereka bisa fokus belajar dengan maksimal. Sehingga setelah lulus bisa menjadi orang yang siap bekerja, atau melanjutkan sekolah dan menjadi orang sukses di masa depan.

Salah seorang siswa Irfan Sohandi mengaku sangat bersyukur bisa masuk di SRMA 38 Lotim. Kegiatan di SRMA yang menerapkan program mirip pondok pesantren baginya tidak terlalu berat karena sudah terbiasa hidup di pondok. Sebelumnya, ia alumni pondok pesantren.

“Jadi kita hanya fokus belajar saja. Alhamdulillah saat ini saya sudah hafal 2 juz,” ungkapnya. (par/r7)

 

 

 

Editor : Prihadi Zoldic
#srma #Ponpes #MISKIN EKSTREME #Sekolah Rakyat #Lotim