LombokPost - Di Lombok Timur, Idul Adha tidak hanya dirayakan lewat penyembelihan. Di balik setiap hewan kurban, ada cara warga merawat keikhlasan, menghormati makhluk hidup, dan menjaga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Suara takbir menggema dari berbagai penjuru pagi itu di Hari Idul Adha 1447 Hijriah. Di halaman masjid-masjid Lombok Timur (Lotim), puluhan sapi dan kambing berdiri menunggu giliran. Sebagian sudah dimandikan. Sebagian lagi dihias pemiliknya sebelum diserahkan kepada tokoh agama untuk disembelih.
Bagi sebagian masyarakat Lotim, berkurban bukan sekadar menyembelih hewan. Ada penghormatan, doa, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Pemandangan itu terlihat di Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kelurahan Selong, Kecamatan Selong, hingga Desa Beririjarak, Kecamatan Wanasaba.
Baca Juga: Kurban SMPN 21 Mataram Meningkat, Dua Sapi dan Dua Kambing Dinikmati 150 Siswa
Para pemilik hewan kurban menyiapkan berbagai perlengkapan sebelum hewan disembelih. Mulai pakaian, makanan, alat hias, hingga sesaji berisi daun sirih, buah pinang, tembakau, serta uang. Setelah semua lengkap, para pengurban menyerahkan hewan kurban kepada tokoh agama yang akan menyembelihnya.
“Ini bentuk keikhlasan hati para pengurban,” terang tokoh agama Desa Ketangga Awaluddin.
Selain menyiapkan berbagai perlengkapan, para pemilik kurban lebih dulu memberi makan hewan kurban masing-masing. Mereka kemudian menyisirnya sambil menaburi parutan kelapa yang dicampur kunyit. Setelah itu, wajah hewan kurban dihias.
Baca Juga: Kurban PLN NP Sambelia Sasar 500 Penerima
Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan sebelum disembelih. Sementara pakaian, mulai baju, kain, payung, dan sandal, bermakna sebagai perlengkapan hewan kurban yang kelak menjadi kendaraan.
“Hewan kurban ini akan menjadi kendaraan kita setelah meninggal dunia. Dan, hewan kurban ini makhluk hidup yang harus kita hormati juga,” katanya.
Menurut Awaluddin, tradisi ini sudah turun-temurun dilakukan masyarakat Ketangga sejak nenek moyang mereka setiap berkurban. Ia berharap tradisi ini diperhatikan dan dipertahankan agar generasi selanjutnya bisa melakukannya kembali.
Baca Juga: Pegadaian Cabang Gerung Salurkan Hewan Kurban untuk Warga Dasan Geres
Sementara itu, Ketua Panitia Kurban Masjid Al-Amanah Selong Zulkarnain mengatakan, tahun ini panitia berhasil mengumpulkan 24 hewan kurban. Sebelum disembelih, puluhan hewan kurban lebih dulu dimandikan dan dipastikan bersih dari kotoran yang menempel di tubuhnya.
“Prosesi penyembelihan diawali dengan memandikan hewan terlebih dahulu. Tradisi ini berawal dari hadis Rasulullah yang berbunyi muliakanlah, agungkanlah hewan sembelihanmu karena ia akan menjadi tungganganmu di titian siratul mustaqim,” jelasnya.
Selain itu, memandikan hewan kurban ini juga belajar dari kisah Nabi Ibrahim yang memandikan puteranya Nabi Ismail sebelum disembelih meskipun tidak jadi untuk disembelih.
Baca Juga: Pegadaian Cabang Gerung Salurkan Hewan Kurban untuk Warga Dasan Geres
Pemandangan lain terlihat di Desa Beririjarak, Kecamatan Wanasaba. Seusai salat Idul Adha atau sebelum menyembelih hewan kurban, ratusan perempuan mengarak dulang tembolaq beak (tudung saji merah) berisi makanan untuk dibawa ke masjid desa.
“Kami menyebutnya ngedulang. Warna merah melambangkan semangat pengorbanan serta darah hewan kurban,” kata Tokoh Pemuda Desa Beririjarak Sopian.
Tradisi ngedulang sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Bahkan, setiap tahun antusiasme masyarakat untuk melakukan tradisi ini tidak pernah surut. Idul Adha tahun ini, sebanyak 500 lebih dulang terkumpul.
Baca Juga: Pegadaian Cabang Gerung Salurkan Hewan Kurban untuk Warga Dasan Geres
Salah satu makanan yang selalu disajikan yakni bulayak atau ketupat. Warga menyiapkannya sejak H-2 Idul Adha. Setelah zikir dan doa selesai, masyarakat menyantapnya bersama-sama.
“Dulang yang dibawa warnanya sama dan hiasannya juga sama, ini sebagai wujud bahwa kami satu keluarga dan tidak ada sekat. Setelah itu baru proses kurban dimulai,” tutupnya. (*/r7)
Editor : Prihadi Zoldic